Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, October 29, 2016

Cerpen Remaja SMA - TRUST ME

*20 Agustus 2012 4.30 pm Kota Pelajar
Tuk…tuk…tuk… suara kaca di ketuk . Mata hazelnya menerawang jauh berusaha meneliti jalanan di bawah jendela itu. Dia terus mengetuk-ngetuk kaca dengan bolpoin yang dia bawa sedari tadi karna suntuk menunggu. Dia benar-benar tak mempedulikan sekelilingnya, peliharaan kesayangannya yang sedari tadi tidur di pangkuannya melompat ke bawah karna si pemilik kaki tiba-tiba berdiri. Si pemilik tangan iseng ini tiba-tiba berdiri dan menerawang seseorang yang sedari tadi di tunggunya ‘Itu mama’ batin  Fantrisa Angelina Meylani. Meyla berlari turun menuruni tangga dua dua “supaya cepat sampai bawah” alasan yang selalu dia lontarkan ketika ayahnya bertanya. Sesampai di bawah dia langsung membukakan pintu untuk mama kesayangannya.
“Mama sukanya gini deh telat pulangnya. Padahal bilang jam 2 udah sampe sini eee jam 4 mama baru di depan pintu” katanya manja
“Iii sayang… Maafin mama yaa. Hehehe”
“Iya deh ma"

Mereka beriringan berdua menuju ruang santai untuk bersantai bersama. “Ma… Meyla minta sangu ma… Uangnya Meyla uda mau abis…” rengeknya manja. Mamanya hanya tersenyum.”Ini sayang buat kamu special udah mama sedian buat kamu” ia menyodorkan ATM yang isinya memang disengaja disediakan untuk anak bungsunya ini “Asiikk mama baik banget”, Iya Sayang mama janji ga akan pergi ” kata-kata Mama tiba-tiba membuatnya terkejut “Apaan sih ma mama pasti sama Meyla terus laah ihh jangan bercanda deh ma” Mama Meyla hanya tersenyum sambil membelai lembut kepalanya.
Kakaknya Yoga Yohanes Kurniawan seharusnya sudah bekerja namun sudah pergi ke sisiNya sejak 2 taun lalu.. Meyla memang berasal dari keluarga kaya, tapi dia tak pernah sombong atau mengumbar kekayaannya.Jika memang ada yang butuh bantuannya pasti dia akan membantu sebisanya. Banyak yang suka dengan dia bahkan dia diantik menjadi ketua kelas di kelasnya.
Dia memiliki mmm… bukan geng tetapi sekumpulan anak-anak bersahabat yang kemana-mana selalu berlima senang ataupun susah. Agra, Sella, Septta dan Geras nama yang selalu ada di samping seorang Meyla. Memang dia tidak mau gabung dengan geng anak kaya tapi entah mengapa mereka berlima termasuk keluarga berada tapi jangan salah, mereka berlima ini bukan orang yang sok-sokkan kok dengan yang lainnya. Bisa dibilang mereka bersahabat sejak suara tangisan mereka yang bebarengan di rumah sakit yang sama di hari yang sama bahkan hampir di jam yang sama. Anak anak ajaib yang bisa lahir secara bersamaan dari rahim ibu mereka yang ternyata juga bersahabat karib ,wow well well hmm, sejak saat itu mereka selalu bersama dari TK, SD, SMP bahkan sampai SMA ini.
Akhir-akhir ini keluarga Meyla baru balik ke Jogja karna tugas ayahnya di Medan. Tetapi persahabatannya tetap terjalin. Meyla anak dari keluarga berada yang bahkan siapa yag tidak kenal ibunya sang arsitek rumah rumah keren di Nusantara ini dan ayahnya pemilik hotel yang tidak ada yang tahu sudah berapa cabangnya bahkan ayahnya sendiri juga lupa sudah mencabangkan dimana saja. Walaupun ayah ibunya memang orang yang bisa di bilang orang penting tetapi mereka selalu meluangkan waktu mereka satu hari 2 kali makan di meja yang sama pada pagi dan malam hari, Meyla memang memiliki keluarga yang ideal.
*21 Agustus 2012 7.30 am
Kkrrrrrrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnggggg………
Bel masuk yang khas dari SMA Budya Wasesa membuat anak-anak yang tadinya duduk-duduk di rumput berdiri lalu berlari ke kelas masing-maisng. Namun teriakan dari toa sekolah ini tidak membuat kelima sahabat ini beranjak dari tempat mereka.
“Sell… Mel.. Aku tadi ketemu cowok ketjeehhh gilaakkk dia senyum ke aku dia buseett keren banget makk OeMG
“Ya ampun Sep kamu ma emang apa-apa leleh. Ehh ini uda masuk lho ayo masukk”
“Arrgghhh!! Lu nih Ras sok rajin ntaran aja ngapain jugak males ekonomi mending tidur”kata Agra kembali tiduran di rumput.
“Sssttt Agra kamu berisik dehh udah kita disini dulu aja kangen-kangenan dulu sama si Meyla yang baru balik dari Medan iihh”
Septta Agra ayo lah si Geras bener kalik ayo masuk pelajaran bu Ninik lho kangen-kangenannya ntar aja
“Iya bener kamu Sell duhh Sep namaku Meyla bukan Mella udah ayo masuk kalian nih debat aja bisanya”
Mereka beriringan berdiri di mulai dari Meyla dan di ikuti Septta dan Sella si kembar dari pemilik restoran mewah di kota ini lalu Agra Wasesa putra dari pemilik sekolah ini membuntutti sambil menarik berdiri Geras Brahmana pemain basket juga orang paling kece di skolah ini sang pemilik hotel berbintang di kota ini juga. Sesampainya mereka di kelas bu Lilik yang biasanya memberi pengumuman tugas sudah di dalam menuliis tugas ekonomi hari ini karena bu Ninik sakit.
“Anak-anak ini ada murid baru. Silahkan masuk Nak
Seorang cowok jangkung ga kalah keren dari Geras masuk semua anak perempuan histeris bahkan ada yang berkata “Ihh gilak lebih keren kalik dari Geras OeMG” sang pemilik nama pun menunduk di meja tanda kecewa karna ada laki-laki lain yang menandingi ke ketjehannya.
“Mey Mey itu cowok yang aku maksud waktu di parkiran yang aku ceritain tadi itu lho keren kan”
Muka Meyla mendadak pasi. Terkejut ‘Ngapain sih tu bocah kesini nyebelin’
“Gua Anggada Septta double ‘T’ ya..
“Baik Anggada kamu duduk di belakang Septta ya. Ibu pergi dulu.”
Semua anak yang ada di kelas menatap iri kearah Septta. Angga duduk di belakangnya dan berkata “Hay tadi kita ketemu di parkiran kan? Boleh tau namamu siapa? Septta yang luluh itu hanya tersenyum malu dengan muka memerah dan menjawab “Septta, double T juga hehe” dengan sumringah yang di buat-buat Angga menjawab “wuuiihhh nama kita kembar keren ya jangan-janggan kamu jodohku” kata Angga sambil memegang hangat tangan Septta. Semua anak perempuan di kelas itu  tampak cemburu dan memandang iri ke arah Septta Tetapi diantara anak-anak itu hanya Meyla lah yang memasang wajah dingin dan jutek. Ada satu rahasia yang seharusnya Septta tau tapi jangan saat ini, karna Meyla tau Septta sedang jatuh hati, akhirnya. “Udah udah udah sinetron sinetronannya udaah sekarang mending nggarap ekonomi aja. Anggada Septta silahkan duduk sudah cukup sandiwara pahlawanmu itu” ujar Meyla sambil menggebrak meja tidak terima sahabatnya di perlakukan seperti itu.
“Kamu kenapa sih Mey pulang dari Medan jadi aneh gitu?”
“iya tuh Meyla aneh banget cemburu kali ya”
Kata teman-temannya tak suka. Meyla hanya terdiam terpengkur di kursinya memakai headset di kupingnya dan menekuni soal-soalnnya. Meyla masih heran sebenarnya ini kenapa. Ada sesuatu yang sebenarnya dia sembunyikan hal yang tak satupun orang tau apa yang sebenarnya terjadi. “Hoy kamu tu kenapa sih ?” tegur Septta sambil menepuk pundak Meyla yang mengagetkan cewek pemilik mata hazel itu. “Ehh.. SSeepp.. Nggaa… Gak papa kok hehehe ga ada apa-apa kok” sahut Meyla terbata-bata karna baru pertama kali dia harus membohongi sahabatnya ini. Septta yang tidak tau apa-apa hanya pasrah lalu kembali ke bangkunya untuk kembali menekuni buku ekonominya.
*21 Agustus 2012 3.30 basecamp
Saat berkumpul di basecamp selalu tercipta entah dari Geras dan Agra yang selalu berdebat masalah kecil Septta Sella dan Meyla yang selalu bergosip ria, sekarang menjadi sunyi sepi hanya karna Meyla si pembuat gaduh basecamp orang yang selalu mengawali kegaduhan mendadak seperi patung di candi-candi tak berkutik dari kursi kesayangannya. Hanya karna hal di sekolah membuatnya menjadi sedikit pendiam.
“Mey kalo ada hal yang mau kamu bicarain bilang aja jangan diem gini kita jadi gatau.. Ga ngerti deh kamu tiba-tiba gini” kata Sella mengawali kecanggungan diantara mereka.
“iya Mey semisal ada sesuatu mending kamu cerita aja” sahut Septta tak mau kalah
“Aku sama Agra pasti dengerin”
“Gua sambil tidur gini masi bisa dengerin lu Mey suer” jawab Agra yang sedari tadi tiduran sambil mengangkat dua jarinya.
Meyla masih terus terdiam di kursinya. Berat baginya untuk mengatakan hal itu, dia takut melukai hati sahabatnya.
“Aku cuma pengen jangan deket-deket sama si anak baru. I hope you all trust in me”
Kontan semua kaget mendengar jawaban Meyla yang lirih namun tajam. Agra bahkan hampir terjatuh dari kasur. Semua kontan meihat kearah Meyla yang begitu mantap mengatakan itu.
“Please aku cuma pengen kalian ngga usah deke-deket Angga. Dia ga sebaik yang kalian lihat dia ga semenarik yang kalian lihat. Aku bsa baca itu. Septta kamu jangan gampang luluh lah sama Angga” jawab Meyla dengan nada sedikit di tinggikan.
“Kamu kenapa sih Mey ! Kamu gak ceritta ?! Gitu sahabat iya ? Aku ga percaya ceritalah kita bakalan percaya kalo kamu cerita sama kita”
Kata Septta menanggapi Meyla yang menjadi aneh . Suasana kembali hening Meyla yang sedari tadi menatap teman-temannya kini tertunduk.
“Pokoknya jangan. Please trust me guys”
Jawab Meyla dengan suara getir lalu dia berdiri dan pulang kerumah. Suasana basecamp menjadi dingin sepeninggal Meyla. Septta semakin merasa ada keanehan dari sahabat karibnya, biasanya kalau ada masalah pasti Septta lah orang pertama yang tau kemudian barulah sahabat yang lainnya. Septta menjadi lebih murung dari biasanya. Atmosfer basecamp mereka sekarang serasa ada di tengah hutan di kutub utara. Dingin dan mencekam.
“Gua mau balik kedinginan gua disini”
“Gra ikutan! Sep Sell balik ya”
Kedua perempuan yang di panggil itu hanya menatap nanar sahabat mereka yang keluar dari basecamp mereka. Tak biasanya kedua kembar ini tidak saling tegur atau saling curhat. ‘Sepi banget. Meyla aneh banget kenapa sih’ gumam Septta sambil menarik berdiri Sella. Klek.. Suara pintu basecamp terkunci Septta duduk di belakang kemudi dan Sella di sebelahnya. Jazz silver itu meluncur di jalanan lengang itu.
*3 hari setelah kejadian basecamp 9.45 am istirahat pertama di sekolah
            “Mey ayo laahh kita makan ber 5 lagi yaaa sepi tau ga ada kamu aku mau curhat udah lama kita ga bareng-bareng”
Meyla memang merindukan temannya ini terutama sahabatnya yang selalu dia jadikan bak sampah pertama saat dia ada masalah. Septta terus membujuk Meyla dengan iming-iming akan di bayari ‘ah itung-itung sebagai salam… eehh salam apaan cobak’ gumam Meyla sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Meyla yang memang merasakan kerinduan dengan mereka ini langsung menarik keluar Septta dan Sella untuk menuju kantin. Akhirnya mereka kembali bercanda ria seperti sedia kala sampai,
“Agra sama Geras kemana sih gak nongol batang idungnya?”
“Baru main basket tuh ketambahan si Angga juga” jawab Sella malu-malu ‘Angga?’ gumam Meyla gusar. Wajah tersipu Septta membuat Meyla bertambah kesal dengan Angga.
“Duh Sep kamu nih ngomong Angga aja pake tersipu tuh Mey Septta falling in love sama si Angga gara-gara kemaren diajak makan tuh. Dasar Septta gampang falling in love”
Kata-kata Sella barusan benar-benar membuat Meyla kesal ingin meluapkan semua kekesalannya ini namun Geras Agra dan Angga sudah datang.
“Wihh tumben Meyla ikutan. Knapa Mey ?”sahut Angga sinis. Meyla benar-benar sudah sangat kesal dan menggebrak meja “Gua cuma pengen lu pergi sekarang! Gua ga suka lu gangguin sahabt-sahabat gua! Jangan pernah deketin mereka lagi ngerti lu?!” bentak Meyla keras yang membuat seluruh isi kantin melihat kearah mereka. Sahabat-sahabatnya hanya melongo melihat kejadian itu. Septta bertambah kesal dan ikut berdiri menggebrrak meja “Kamu kenapa lagi sih Mey! Angga baik kalik! Dia mau nganterin kita balik! Dia beliin kita makan! Dia ngajarin kita pr!” Meyla semakin gusar “WHAT?! Cuma gara-ara diajarin PR, dibayarin makan dianter pulang lu langsung falling in love sama Angga?! Gua bisa kali please jangan matr!” Septta memegang kepala dan menjawab lagi “Maumu apaan sih Mey?! Kamu suka Angga sana ga usah nagatin aku matre! Ahh kalo kamu bukan sahabatku aku mungkin ga akan nganggap kamu ada karna memang udah ada si Angga Mey !!”
Mendengar hal itu Mey tersentak. Dia benar-benar tak percaya seorang Septta sahabat karibnya selama ini bisa mengatakan hal sekejam itu. Kekecewaannya terhadap Septta tergambarkan oleh air mata yang jatuh ke pipinya. Sahabat-sahabatnya tersentak melihat hal itu karna seorang Meyla yang cablak dan gokil bisa menangis, “Iya Sep, Sell, Gra, Ras… A..aaku… Ga akan gangguin… mmmhh… Persahabatan kalian lagi… aku janji ini untuk yang pertama dan terakhir kali …” dengan tangis tertahan Meyla mengungkapkan hal itu dan pergi meninggalkan sahabat masa kecilnya, hanya karna seorang Angga temannya dari Medan. Tak ada seorangpun tau hal itu. Meyla tau betul siapa Angga makanya dia mati-matian membuat sahabat-sahabatnya menjauhi seorang Angga. Hal itu benar-benar membuatnya menangis dan sangat terpukul. Tak jauh dari pandangan sahabt-sahabatnya itu tiba-tiba Meyla merasakan pusing tak tertahankan. Dia memegang kepalanya berusaha meraih tiang di dekatnya tapi apa daya dia terjatuh. Kepalanya terantuk ujung ubin tangga, hidungnya mengeluarkan darah yang tak biasanya dilihat oleh sahabatnya. Setau mereka Meyla tak akan mimisan bila terjatuh. Kepalanya mengeluarkan darah. Agra Geras Sella dan Septta berlari sekencang-kencangnya untuk menolong sahabat karibnya yang tampk berusaha bangun namun tak kuat. “Eghh… Aku gapapa… ahh sakit… Aku kenapa? Aku gapapa kan? Sakit kepalaku Sep… sakit tapi aku gapapa … sakkiitt..”
“Ahahaha kamu aneh Mey kamu jatuhh.. Astaga!! Kepalamu Mey!! Agra cepetan gendong!! Geras kamu siapin mobil!! Cepetaann !!”
Huru-hara mulai terdengar. Hal itu semakin membuat Meyla yang ada di gendongan Agra bingung. Semuanya buram tak jelas apa yang dia lihat semuanya serasa tak ada suaranya hanya tinggal suara batinnya ‘aku gapapa kan Tuhan? Kenapa ? kenapa aku di gendong Agra? Kenapa Septta nangis.. tanganku tak bisa diangkat.. kepalaku sakit.. aahh aku tak bisa dengar apa yang mereka katakan… pusing kepalaku.. mataku berat… Tuhan kejadian ini terulang lagi…’
Geras mendahului Agra untuk membukakan pintu untuk sahabatnya itu. Septta dan Sella menangis karna Meyla sudah memejamkan mata Meyla terlihat pucat pasi. “Geras ayo cepetan jangan ngebut-ngebut tapi cepet. Ati-ati ayoookkkk” kata Septta panik. Kemudian mereka masuk mobil, Agra di samping Geras yang menyetir, Septta memangku kepala Meyla, Sella memangku kaki Meyla. Septta membelai kepala Meyla yang sudah tak sadarkan diri. Lalu Septta melihat mata Meyla sedikit terbuka “Mey.. hiks.. kamu gapapa kok kita jamin” kata Septta di sela tangisnya Meyla menjawab “Aku… gapapa… A..aa…aakuu… cuma…. bu…butuh… tii..dur” kata Meyla sesaat kemudian kembali memejamkan mata. Septta semakin panik “Geraaasss cepetaannn…. Hwwwaaaaa… Meeeyyyy….”
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung membopong Meyla menuju suster yang di dekat situ dan menaruh Meyla di sebuah kasur.
“Mey please buka mata Mey”
Rengek Septta dan Sella bebarengan. Meyla yang menggunakan alat bantu bernafas itu di dorong menuju ruang ICU.
Sekitar 15 menit setelah Meyla masuk ICU orangtua Meyla datang. Mereka tidak terlihat menangis tetapi mereka hanya terlihat sedih tanpa ada air mata karna mereka memang sudah tau hal ini akan terjadi. Disitu orang tua Meyla mulai bercerita tentang Meyla  Dia mengidap suatu penyakit mirip tumor tetapi ini menyerang syaraf di sekitar otaknya yang membuatnya mimisan setiap merasa pusing. Ibunya yang mereka kenal ibu paling tegar kali ini dia tak dapat menahan air matanya dia menangis sambil menceritakan apa yang terjadi pada Meyla selama ini. Meyla di Medan bukan sekedar pindah dan berlibur, tapi dia juga melakukan terapi yang memang sudah akut. Dia tak ingin membuat sahabat-sahabatnya kuatir jadi dia berbohong tentang penyakitnya ini. Dia benar-benar menyayangi sahabat-sahabatnya ini melebihi siapapun.
Di Medan dia sempat bersih dari penyakitnya kemudian dia bersekolah di Medan 1 tahun. Disana dia bertemu dengan Anggada Septta orang yang mendekatinya saat itu. Angga selalu mengajaknya main dan membuat seorang Meyla nyaman dengan laki-laki untuk pertama kalinya. Walaupun mamanya sudah memperingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan Angga yang selalu meminta ini itu pada Meyla anak orang kaya ini Meyla membantah. Dia benar-benar merasa sangat nyaman bersama seorang Angga ini, namun suatu hari Meyla melihat Angga berpelukan dengan seorang perempuan di tempat mereka janjian untuk salam perpisahan. Disitu dia benar-benar sedih dan mengalami hal yang sama seperti hari ini. Dia pingsan dan membuat dia hampir memejamkan mata untuk slamanya tetapi keajaiban berpihak pada Meyla. Dia membuka matanya 2 hari setelah kejadian itu tetapi dokter berpesan untuk meminimalisir kejadian ini karna sekali itu terjadi tidak tau akan seperti apa lagi. “Keajaiban tidak datang dua kali. Iya kan yah” kata mama Meyla di akhir cerita sambil memeluk suaminya. Ke empat orang sahabat ini menangis Agra yang tak pernah menangis sekarang dia menangis tak bersuara. Geras menepuk pundak Agra dan ikut menangis. Suasana hari itu benar-benar membuat atmosfer rumah sakit bersedih semua.
Beberapa menit kemudian dokter yang menangani Meyla keluar dari ICU. Dan terlihat tubuh Meyla di dorong dan di pindahkan ke ruang inap yang biasa.
“Keluarganya Meyla?”
Sebentar mereka semua saling pandang kemudian mantap menjawab “YA!!” Dokter tersenyum dan memulai menjelaskan “Keadaan Meyla lumayan membaik tapi belum sadarkan diri. Sudah di pindahkan ke ruang biasanya. Bisa di jenguk tapi jangan terlalu mengganggu. Jangan terlalu berisik”
Mereka semua masuk keruangan Meyla, kontan Septta menangis sejadi-jadinya di ikuti Sella. Orangtua Meyla menatap nanar anak bungsunya yang selalu bersama mereka yang selalu bercanda di rumah. Disaat semuanya menangis datanglah Angga. Agra yang benar-benar sudah naik pitam ingin menghajar Angga saat itu juga, tetapi ditahan oleh Geras “Sabar Gra” Semua memandang Angga yang berdiri di ambang pintu sambil menunduk. “Sini nak Angga gapapa kok sini mungkin kamu bisa jelasin ke kita tentang waktu itu” kata mama Meyla. Angga berjalan mendekati ranjang Meyla ragu-ragu. Angga mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Saat dia mendekati Meyla dia memang benar-benar suka dan nyaman dengan Meyla semua barang yang dimintanya itu hasil paksaan sepupunya, tetapi saat dia memeluk perempuan itu sebenarnya dia sepupunya yang meminta barang-barang itu. Angga benar-benar ingin menjelaskan tetapi Meyla keburu sampai Jogja. Dan saat itu juga dia berusaha ke Jogja untuk menemui dan menjelaskan semuanya, tetapi saat di sekolah dia berusaha mendekati Meyla namun dia selalu menjauh. Angga benar-benar menyesal tentang semua yang terjadi karena itu semua diluar apa yang dia rencakan. Sebenarnya dia ingin menembak Meyla tetapi sepupunya itu datang memeluknya karna memang dia baru merasakan sedih dan Angga adalah teman curhat sepupunya itu.
Belum sempat Angga menghela nafas ibu Meyla memeluknya “Kamu anak yang baik nak. Maafkan mama yaa saya ga tau kalo kamu memang anak baik” mendengar hal itu dia mulai menangis. Segala hal yang dia lakukan tidak sia-sia “Ma aku sudah terlambat kasih tau Mey ya. Maafin Angga ya”
“Nggak Ngga lu belum telat Mey udah bangun sana bilang”
Kata Agra memberi tahu. Kontan semua mendekati Meyla terutama Angga. “Hay.. Aku gapapa kok serius” kata Meyla pelan Angga menggenggam tangan Meyla “Ngga... Kamu ngapain disini?” kata Meyla menarik tangannya. Memang dia masih lemas tapi dia benar benar bisa menarik tangannya. Angga menjelaskan dengan terisak. Tak tahu lagi harus bagaimana rasa takut kehilangan perempuan ini terus menjalar sampai keubun-ubun membuat genangan air di pelupuk matanya mengalir deras menuruni pipi dekiknya. Meyla yang mendengar hal itu tersenyum dan menggenggam tangan Angga “Gapapa Ngga. Oh iya aku mau pesen sama kamu Ngga. Jagain Septta yaa... Aku pesen itu..” kata Meyla menggenggam erat tangan Angga dan menyatukan tangan mereka. Semua tersenyum Angga pun tersenyum. Ingin dia mengatakan sesuatu pada yang lain tetapi kata-kata lain keluar dari mulutnya terasa sesak rasanya “Aku... sayang kalian. Jagain.. mama ya pa.. Temen-temen kalian jangan pernah pisah ya... kalo ada masalah jangan selesaiin sendiri kalian harus ngobrol okee... Inget bangun kepercayaan kalian ya.... Makasih ya buat selama ini... Aku sayang kalian...” kata Mey terbata-bata lalu perlahan genggaman tangannya di tangan Angga melemas. Mendadak hening semua. Mama mulai terisak disusul oleh si kembar. Semuasedih semua menangis “Aaarrggggghhhhh.....!!!” Agra menjerit tak kuat menahan tangisnya. Untuk pertama kalinya mereka merasa sedih hanya berempat saja meskipun kini sudah ketambahan Angga tetapi benar-benar berbeda rasanya.
*26 Juli 2015 di pemakaman umum
Terasa sunyi rasanya. Hari ini sekolah libur karna semua anak, staf dan guru mendatangi pemakaman Meyla. Kelima sahabat baru ini terisak berdiri di paling depan melihat untuk terakhir  kalinya peti putih milik Meyla. Septta mennagis di pelukan Angga dan kontan Sella memeluk Geras. Agra semakin menangis karna sekarang dialah yang jomblo padahal dulu saat pemakaman kakak Meyla dialah yang dipeluk. Pemakaman hari itu penuh isak tangis. Banyak laki-laki yang mengungkapkan perasaan sebenarnya kepada orang tua Meyla. Kontan Ayah Meyla tertawa tapi istrinya itu menyikut perut suaminya itu yang membuat Ayah Meyla ini kesakitan sampai menunduk. Kelima sahabat itu tertawa melihat kekonyolan orangtua Meyla “Ma sekarang kita berlima mau di anggap anaknya tante gapapa lho apalagi si Angga diakan ‘merantau’ ke Jogja” kata Sella nyeplos mama Meyla hanya tersenyum “makasih ya aku udah nganggap kalian anak-anakku kok” kontan mereka semua memeluk mama kedua mereka. “Saya ngga bisa nyari pengganti Meyla kalian tau sendiri anak tante dua-duanya uda ga ada. Ya tapi ada kalian ngga papa kok. Walaupun rumah bakalan sepi rumah ga ada yang gebrak-gebrak lagi ga ada yg turun tangga dua-dua lagi, ga ada yang mainan Momo anjing kesayangan lagi. Ah semuanya jadi berbeda gapapa kok ada kalian semua. Mama sayang kalian” kata Mama membuat yang lain ikut terisak. Semua yang ada di dunia ini hanyalah milikNya. Kita tak bisa mengubah apapun yang direncakan Nya tetapi mungkin kita bisa memperbaikinya. Kalau kita bisa mengubahnya kenapa tidak? Percaya saja satu sama lain yakin pertengkaran kalian akan selesai. Percayalah.



                                                                                                           ©Elista Vioni L.S (Yogyakarta)

0 comments:

Post a Comment