Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, October 27, 2016

Cerpen Remaja SMA - Sesejuk Ess

Masa SMA adalah masa yang paling tidak menyenangkan bagiku. Suasana sekolah yang membuatku mual. Di satu bagian sering terlihat olehku siswa dengan raut wajah bak monster. Dibagian lain aku melihat koridor sekolah seperti catwalk tempat para model memamerkan pernak-pernik tubuhnya, itulah SMAku.
Namaku Brian Elfrando, siswa kelas XI IPS 2 SMA Tanjung Harapan. Hidupku mudah, karena kegiatanku hanya diseputar sekolah, lapangan basket, rumah, warnet, dan perpustakaan untuk tidur. Aku bukan bagian dari mereka, si ‘sok’ penguasa dan si model. Itu istilahku untuk mereka, tapi rupanya mereka juga punya istilah untukku ‘manusia berdarah dingin’. Tak ada orang yang berani menggangguku atau berbicara padaku, mungkin karena mereka tidak mengenalku. Mereka hanya melihat sisi luarku ‘cuek dan dingin’, itulah aku bagi mereka.
Seperti biasa, tiap Sabtu. Hari libur yang sangat kusukai, dipagi hari aku bersiap  memakai sepatu basket berwarna abu-abu dipinggir lapangan basket belakang sekolah.  Kukeluarkan bola dari tasku dan kutaruh disampingku. Akupun memulai pemanasan, tak lama kemudian aku mulai mendribble bola milikku. aku cukup bangga dengan kemampuanku bermain basket. Beberapa kali shoot yang sempurna membuatku makin percaya diri, hingga akhirnya shootku meleset karena ada seorang remaja putri bertepuk tangan dan tersenyum menghadapku. Kemudian dia mengambil bola itu dan menyodorkannya padaku sambil berkata “shoot lagi dong”, dengan wajah dingin aku menjawab “nggak usah sok akrab!”. Kurebut bola itu darinya, tapi yang membuatku heran gadis itu tetap memberikan senyum yang sangat manis padaku. Aku merasa sangat jengkel, karena diperlakukan seperti anak kecil yang kehilangan permen “dasar cewek aneh” gumamku sembari berjalan meninggalkannya.
Hari Senin tiba, sangat berat rasanya untuk memulai hari ini. Dengan langkah gontai kupaksakan kakiku untuk melangkah kesekolah. Setelah mengikuti upacara bendera yang sangat membosankan bagiku. Dengan malas aku masuk kedalam kelas, dan seperti biasa sebelum guru masuk kelas aku merasa seperti didalam pasar dibandingkan didalam kelas, sangat gaduh dan ribut. Aku sudah membawa persiapan untuk mengatasi suasana ini, dengan memasang earphone ditelingaku.
Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika karena wali kelas kami masuk kedalam kelas, tapi tidak sendiri. Ada seorang gadis yang mengekor dibelakangnya, “ah, anak baru! Biasa” pikirku. “selamat pagi anak-anak” sapa sang guru, “kalian punya teman baru, dan mulai sekarang akan bergabung dengan kelas kalian. Silahkan memperkenalkan diri nak” lanjutnya. “Baik bu” balas si anak baru itu sembari selangkah maju kedepan. “selamat pagi teman-teman, nama saya Putri Pradini. Saya pindahan dari SMA Harapan Bangsa, Jakarta. Orang tua saya dipindah tugaskan kesini, saya harap teman-teman bisa menerima saya. Terimakasih”. “Putri, kamu duduk disamping Brian ya. Cuma itu bangku yang kosong” kata sang wali kelas. Aku terkejut mendengarnya, “biar dia duduk sama yang lain aja bu” sahutku. Aku memang tidak suka ada orang duduk disampingku. “mau duduk sama siapa Brian? Cuma kursi disampingmu saja yang kosong. Sudahlah, jangan membantah” kata wali kelas. Aku hanya menghela nafas, kemudian Putri berjalan menuju mejaku. Begitu dia duduk, Anita, siswi yang duduk didepanku. Berbisik kepadanya “Putri, hati-hati. Kamu lagi duduk sama MBD!” “MBD?” Tanya Putri bingung. “iya, manusia berdarah dingin” sahut Anita dengan suara horornya. Seketika kutatap tajam kearah Anita. Anita langsung terdiam dan buru-buru membalikkan badannya.
Kemudian Putri menyapaku dan tersenyum “hai, kamu cowok yang main basket kemarin Sabtu itu ya? Aku Putri, nama kamu siapa?”. “udah dengar dari dia kan?” jawabku tanpa menoleh padanya. “haa? Serius? Jadi kamu manusia berdarah dingin? Beneran?” tanyanya, “Mmm” jawabku seadanya. “dasar cewek aneh” pikirku. Pelajaran pagi ini aku lewati dengan perasaan yang kurang nyaman karena beribu pertanyaan yang terlontar dari mulut Putri kepadaku, meskipun tidak ada satupun pertanyaannya yang kujawab. Hingga jam menunjukkan pukul 13.30. bel tanda pulang berbunyi, akupun beranjak dari tempat dudukku dan mengambil tas hitamku. Tak kusangka si cerewet aneh itu tersenyum dan berkata  “sampai jumpa besok MBD, hati-hati dijalan” tanpa menghiraukan ucapannya aku berjalan keluar kelas dan pulang.
Keesokan harinya, aku berjalan kesekolah dengan raut wajah yang tidak bersemangat seperti biasanya. Sesampainya disekolah aku langsung masuk kedalam kelas, kulihat Putri sedang duduk dikursinya sambil membaca buku LKS Akuntansi dengan asiknya. Kulangkahkan kakiku berjalan kearahnya,menyadari kehadiranku Putri tersenyum dan dan menyapaku “hai MBD, apa kabar? Dan selamat datang”. Tanpa balasan senyum dan jawaban aku langsung menaruh tas diatas meja lalu memakai earphone dan duduk dengan santainya sambil menaruh kaki diatas meja. Melihat tingkahku, Putri hanya geleng-geleng kepala, kemudian Putri bertanya pelan kepada Anita “Nit, apa Brian selalu seperti ini?” “emang orangnya aneh kaya gitu, udah biarin aja” jawab Anita pelan, “Ooohh” samar-samar ku dengar suaranya menjawab, dari sudut mataku ku lirik dia kembali tersenyum dan wajahnya menjadi kembali ceria. Kadang aku merasa kagum pada anak satu ini betapapun menyebalkannya sikapku dia tetap tidak kapok untuk menyapa dan mengajakku mengobrol. Hari-hari ku belakangan ini menjadi ramai sejak Putri duduk di sebelahku.
“Teman-teman tolong perhatiannya, hari ini bu Guru sedang rapat jadi kita diberi tugas kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 4 orang, diskusikan halaman 28 di buku paket ya…” suara Eva si ketua kelas memecah keributan di dalam kelas. “Bagaimana bagi kelompoknya?” teriak seorang anak berkacamata dari belakang yang terkenal kritis di dalam kelas. “Tenang.. aku sudah diberi perintah oleh Bu Guru untuk membagi.” ‘Hufh’ aku benar-benar malas dengan diskusi kelompok dan sejenisnya, aku lebih senang dengan tugas pribadi meskipun aku juga jarang mau mengerjakannya. “Anita, Dinu, Putri dan Hmm… MBD” teriak si pengatur kelas sembari menunjuk ke arahku. “Aku sendiri aja” sahutku. “Aku tahu kamu mau bilang begitu, tapi ini tugas kelompok, dan kamu wajib kerjakan dan tolong hargai aku sebagai ketua kelas” kata Eva dengan nada yang mulai meninggi, ini dia yang membuatku jengkel, orang yang sok berkuasa dan selalu ingin dihargai. “kalo bilang nggak ya nggak! Ngerti gak?” kataku tak kalah tegas dan siap-siap berdiri meninggalkan kelas. “Hei.. tolong jangan begitu” suara Putri setengah berbisik dan mencoba menahanku dengan memegang tanganku. Sungguh aneh aku seperti anjing yang tunduk kepada tuannya, melihat wajahnya aku langsung kembali duduk. “Wah..wah si darah dingin sekarang sudah mulai hangat ya..” Teriak salah satu anak. “emangnya kamu pake pelet apa Putri? Sampe-sampe si darah dingin jadi tunduk kaya anak anjing” sahut anak berkacamata yang duduk di sudut belakang kelas “ woi!! Omongannya bisa dijaga dikit nggak?!!! Dasar duo cupu aneh” teriakku dengan nada tinggi sambil berjalan menghampiri mereka berdua. Kutarik baju sikacamata itu dan kulayangkan satu pukulan kepipinya tanpa berkata apapun, dia langsung terjatuh kelantai dan merintih kesakitan. Suasana kelas menjadi sangat gaduh, dan aku merasa ada seorang lagiyang menghampiriku dengan penuh amarah dan membawa penggaris kayu hendak memukulku. Aku menghindari serangannya dan membalas serangannya dengan memukul rahangnya hingga anak itu terjatuh. Amarahku mulai membara dan hendak menyerang kembali kedua anak itu. Dan saat itu juga Putri datang dari arah belakangku hendak menenangkanku, karena emosi yang tidak terkendali tanpa sengaja Putri terkena pukulanku. Seketika Putri jatuh terjerembab kelantai dan pingsan,akupun kaget dan merasa sangat bersalah. Reflek aku mengangkatnya dan membawanya ke UKS, kubaringkan badannya di atas ranjang dengan perlahan dan memesan segelas teh dikantin sekolah kemudian menaruhnya dimeja. Aku merasa sangat bersalah dan bingung, aku menghargainya dan tidak bermaksud untuk menyakitinya. Aku menunggu dia kembali sadar dengan perasaan yang cemas, beberapa saat kemudian Putri siuman.  Aku mengambilkan teh dan membantu untuk meminumkannya, aku tidak berani berkata apa-apa. Mulutku terkatup dan hanya bisa melihat wajahnya yang sayu, kemudian aku memberanikan diri untuk meminta maaf kepadanya “Putri, sorry. Aku tadi nggak sengaja, kamu nggak apa-apa?” “nggak apa-apa kok” katanya sambil tersenyum kecil. Kemudian aku bertanya kepadanya “Put, kenapa kamu mau dekat denganku?”, “ya karena aku nggak punya alasan buat ngejahuin kamu dan siapapun. dan kenapa kamu dingin dengan semua orang?” tanyanya.  “mungkin karena aku punya kehidupan yang suram. Aku tidak percaya dengan siapapun dan bergantung pada siapapun”. “maksudmu?”, “aku sudah sering dikecewakan dan aku tidak mau dikecewakan lagi oleh siapapun” jawabku. Akupun kembali bertanya sesuatu yang mengganjal dipikiranku “kenapa kamu selalu tersenyum padaku? padahal semua orang disekolah ini tidak ada seorangpun yang mau dekat denganku”. “menurutku, tiap orang punya karakternya masing-masing. Jadi untuk apa aku menjauhi kamu. Dan Brian, kalau kamu menyayangi seseorang, kamu juga harus siap disakiti. Tapi apa artinya hidup kalau kamu tidak merasakan keduanya, aku rasa kamu harus membuka hatimu Brian. Termasuk kepadaku” jawabnya.
“kalo disakiti sama orang tua yang emang benar-benar kamu sayangi gimana? Haa?” tanyaku dengan agak kecewa. “kecewa itu pasti terjadi pada orang yang kita sayang, karena orang yang kita sayang itu tidak selalu melakukan apa yang kita mau. Tapi kita harus siap menerima dan memaafkan mereka Brian.” Jelas Putri. “apa yang kualami tidak semudah seperti yang kamu katakan, kamu bicara seperti itu seolah-olah itu adalah hal yang mudah dan sederhana. Itu karena kamu nggak pernah ngerasain itu semua Put” kataku. “Brian, aku pernah mengalami hal yang sama sepertimu. Ibuku diusir dari rumah oleh ayahku, dan entah dimana keberadaannya sekarang. Ayahku selalu pulang larut malam dan hampir tidak pernah memperhatikanku. Aku juga dulu sama sepertimu, tapi aku merasa rugi. Perasaan seperti itu menyiksaku, dan aku tidak lagi memendam perasaan seperti itu lagi. Aku harap kamu mau berubah Brian”. Seketika aku tercengang mendengar ceritanya, aku tertegun sejenak merenungkna kata-katanya. Akupun memegang tangannya dan berkata “aku nggak janji Put, tapi bakal aku coba. Makasih ya buat semuanya” sambil mengedipkan mata kearahnya. Diapun tersenyum  dan sedikit tersipu “iya, sama-sama. Semangat ya Brian” balasnya sambil tersenyum, dengan senyuman manis yang menyejukkan hatiku yang dingin.


SELESAI


                                                                                               © Amati Roni Sentosa Z (Yogyakarta)

0 comments:

Post a Comment