Masa SMA adalah masa yang paling tidak menyenangkan
bagiku. Suasana sekolah yang membuatku mual. Di satu bagian sering terlihat
olehku siswa dengan raut wajah bak monster. Dibagian lain aku melihat koridor
sekolah seperti catwalk tempat para
model memamerkan pernak-pernik tubuhnya, itulah SMAku.
Namaku Brian Elfrando, siswa kelas XI IPS 2 SMA
Tanjung Harapan. Hidupku mudah, karena kegiatanku hanya diseputar sekolah,
lapangan basket, rumah, warnet, dan perpustakaan untuk tidur. Aku bukan bagian
dari mereka, si ‘sok’ penguasa dan si model. Itu istilahku untuk mereka, tapi
rupanya mereka juga punya istilah untukku ‘manusia berdarah dingin’. Tak ada
orang yang berani menggangguku atau berbicara padaku, mungkin karena mereka
tidak mengenalku. Mereka hanya melihat sisi luarku ‘cuek dan dingin’, itulah
aku bagi mereka.
Seperti biasa, tiap Sabtu. Hari libur yang sangat
kusukai, dipagi hari aku bersiap memakai
sepatu basket berwarna abu-abu dipinggir lapangan basket belakang sekolah. Kukeluarkan bola dari tasku dan kutaruh
disampingku. Akupun memulai pemanasan, tak lama kemudian aku mulai mendribble bola milikku. aku cukup bangga
dengan kemampuanku bermain basket. Beberapa kali shoot yang sempurna membuatku makin percaya diri, hingga akhirnya shootku meleset karena ada seorang
remaja putri bertepuk tangan dan tersenyum menghadapku. Kemudian dia mengambil
bola itu dan menyodorkannya padaku sambil berkata “shoot lagi dong”, dengan wajah dingin aku menjawab “nggak usah sok
akrab!”. Kurebut bola itu darinya, tapi yang membuatku heran gadis itu tetap
memberikan senyum yang sangat manis padaku. Aku merasa sangat jengkel, karena
diperlakukan seperti anak kecil yang kehilangan permen “dasar cewek aneh”
gumamku sembari berjalan meninggalkannya.
Hari Senin tiba, sangat berat rasanya untuk memulai
hari ini. Dengan langkah gontai kupaksakan kakiku untuk melangkah kesekolah.
Setelah mengikuti upacara bendera yang sangat membosankan bagiku. Dengan malas
aku masuk kedalam kelas, dan seperti biasa sebelum guru masuk kelas aku merasa
seperti didalam pasar dibandingkan didalam kelas, sangat gaduh dan ribut. Aku
sudah membawa persiapan untuk mengatasi suasana ini, dengan memasang earphone ditelingaku.
Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika karena
wali kelas kami masuk kedalam kelas, tapi tidak sendiri. Ada seorang gadis yang
mengekor dibelakangnya, “ah, anak baru! Biasa” pikirku. “selamat pagi
anak-anak” sapa sang guru, “kalian punya teman baru, dan mulai sekarang akan
bergabung dengan kelas kalian. Silahkan memperkenalkan diri nak” lanjutnya.
“Baik bu” balas si anak baru itu sembari selangkah maju kedepan. “selamat pagi
teman-teman, nama saya Putri Pradini. Saya pindahan dari SMA Harapan Bangsa,
Jakarta. Orang tua saya dipindah tugaskan kesini, saya harap teman-teman bisa
menerima saya. Terimakasih”. “Putri, kamu duduk disamping Brian ya. Cuma itu
bangku yang kosong” kata sang wali kelas. Aku terkejut mendengarnya, “biar dia
duduk sama yang lain aja bu” sahutku. Aku memang tidak suka ada orang duduk
disampingku. “mau duduk sama siapa Brian? Cuma kursi disampingmu saja yang
kosong. Sudahlah, jangan membantah” kata wali kelas. Aku hanya menghela nafas,
kemudian Putri berjalan menuju mejaku. Begitu dia duduk, Anita, siswi yang
duduk didepanku. Berbisik kepadanya “Putri, hati-hati. Kamu lagi duduk sama
MBD!” “MBD?” Tanya Putri bingung. “iya, manusia berdarah dingin” sahut Anita
dengan suara horornya. Seketika kutatap tajam kearah Anita. Anita langsung
terdiam dan buru-buru membalikkan badannya.
Kemudian Putri menyapaku dan tersenyum “hai, kamu
cowok yang main basket kemarin Sabtu itu ya? Aku Putri, nama kamu siapa?”.
“udah dengar dari dia kan?” jawabku tanpa menoleh padanya. “haa? Serius? Jadi
kamu manusia berdarah dingin? Beneran?” tanyanya, “Mmm” jawabku seadanya.
“dasar cewek aneh” pikirku. Pelajaran pagi ini aku lewati dengan perasaan yang
kurang nyaman karena beribu pertanyaan yang terlontar dari mulut Putri
kepadaku, meskipun tidak ada satupun pertanyaannya yang kujawab. Hingga jam
menunjukkan pukul 13.30. bel tanda pulang berbunyi, akupun beranjak dari tempat
dudukku dan mengambil tas hitamku. Tak kusangka si cerewet aneh itu tersenyum
dan berkata “sampai jumpa besok MBD,
hati-hati dijalan” tanpa menghiraukan ucapannya aku berjalan keluar kelas dan
pulang.
Keesokan harinya, aku berjalan kesekolah dengan raut
wajah yang tidak bersemangat seperti biasanya. Sesampainya disekolah aku
langsung masuk kedalam kelas, kulihat Putri sedang duduk dikursinya sambil
membaca buku LKS Akuntansi dengan asiknya. Kulangkahkan kakiku berjalan
kearahnya,menyadari kehadiranku Putri tersenyum dan dan menyapaku “hai MBD, apa
kabar? Dan selamat datang”. Tanpa balasan senyum dan jawaban aku langsung
menaruh tas diatas meja lalu memakai earphone
dan duduk dengan santainya sambil menaruh kaki diatas meja. Melihat tingkahku,
Putri hanya geleng-geleng kepala, kemudian Putri bertanya pelan kepada Anita
“Nit, apa Brian selalu seperti ini?” “emang orangnya aneh kaya gitu, udah
biarin aja” jawab Anita pelan, “Ooohh” samar-samar ku dengar suaranya menjawab,
dari sudut mataku ku lirik dia kembali tersenyum dan wajahnya menjadi kembali
ceria. Kadang aku merasa kagum pada anak satu ini betapapun menyebalkannya
sikapku dia tetap tidak kapok untuk menyapa dan mengajakku mengobrol. Hari-hari
ku belakangan ini menjadi ramai sejak Putri duduk di sebelahku.
“Teman-teman tolong perhatiannya, hari ini bu Guru
sedang rapat jadi kita diberi tugas kelompok, masing-masing kelompok berjumlah
4 orang, diskusikan halaman 28 di buku paket ya…” suara Eva si ketua kelas
memecah keributan di dalam kelas. “Bagaimana bagi kelompoknya?” teriak seorang
anak berkacamata dari belakang yang terkenal kritis di dalam kelas. “Tenang..
aku sudah diberi perintah oleh Bu Guru untuk membagi.” ‘Hufh’ aku benar-benar
malas dengan diskusi kelompok dan sejenisnya, aku lebih senang dengan tugas
pribadi meskipun aku juga jarang mau mengerjakannya. “Anita, Dinu, Putri dan
Hmm… MBD” teriak si pengatur kelas sembari menunjuk ke arahku. “Aku sendiri
aja” sahutku. “Aku tahu kamu mau bilang begitu, tapi ini tugas kelompok, dan
kamu wajib kerjakan dan tolong hargai aku sebagai ketua kelas” kata Eva dengan
nada yang mulai meninggi, ini dia yang membuatku jengkel, orang yang sok
berkuasa dan selalu ingin dihargai. “kalo bilang nggak ya nggak! Ngerti gak?”
kataku tak kalah tegas dan siap-siap berdiri meninggalkan kelas. “Hei.. tolong
jangan begitu” suara Putri setengah berbisik dan mencoba menahanku dengan
memegang tanganku. Sungguh aneh aku seperti anjing yang tunduk kepada tuannya,
melihat wajahnya aku langsung kembali duduk. “Wah..wah si darah dingin sekarang
sudah mulai hangat ya..” Teriak salah satu anak. “emangnya kamu pake pelet apa
Putri? Sampe-sampe si darah dingin jadi tunduk kaya anak anjing” sahut anak
berkacamata yang duduk di sudut belakang kelas “ woi!! Omongannya bisa dijaga
dikit nggak?!!! Dasar duo cupu aneh” teriakku dengan nada tinggi sambil
berjalan menghampiri mereka berdua. Kutarik baju sikacamata itu dan kulayangkan
satu pukulan kepipinya tanpa berkata apapun, dia langsung terjatuh kelantai dan
merintih kesakitan. Suasana kelas menjadi sangat gaduh, dan aku merasa ada
seorang lagiyang menghampiriku dengan penuh amarah dan membawa penggaris kayu
hendak memukulku. Aku menghindari serangannya dan membalas serangannya dengan
memukul rahangnya hingga anak itu terjatuh. Amarahku mulai membara dan hendak
menyerang kembali kedua anak itu. Dan saat itu juga Putri datang dari arah
belakangku hendak menenangkanku, karena emosi yang tidak terkendali tanpa
sengaja Putri terkena pukulanku. Seketika Putri jatuh terjerembab kelantai dan
pingsan,akupun kaget dan merasa sangat bersalah. Reflek aku mengangkatnya dan
membawanya ke UKS, kubaringkan badannya di atas ranjang dengan perlahan dan
memesan segelas teh dikantin sekolah kemudian menaruhnya dimeja. Aku merasa
sangat bersalah dan bingung, aku menghargainya dan tidak bermaksud untuk
menyakitinya. Aku menunggu dia kembali sadar dengan perasaan yang cemas,
beberapa saat kemudian Putri siuman. Aku
mengambilkan teh dan membantu untuk meminumkannya, aku tidak berani berkata
apa-apa. Mulutku terkatup dan hanya bisa melihat wajahnya yang sayu, kemudian
aku memberanikan diri untuk meminta maaf kepadanya “Putri, sorry. Aku tadi
nggak sengaja, kamu nggak apa-apa?” “nggak apa-apa kok” katanya sambil tersenyum
kecil. Kemudian aku bertanya kepadanya “Put, kenapa kamu mau dekat denganku?”,
“ya karena aku nggak punya alasan buat ngejahuin kamu dan siapapun. dan kenapa
kamu dingin dengan semua orang?” tanyanya.
“mungkin karena aku punya kehidupan yang suram. Aku tidak percaya dengan
siapapun dan bergantung pada siapapun”. “maksudmu?”, “aku sudah sering
dikecewakan dan aku tidak mau dikecewakan lagi oleh siapapun” jawabku. Akupun
kembali bertanya sesuatu yang mengganjal dipikiranku “kenapa kamu selalu tersenyum
padaku? padahal semua orang disekolah ini tidak ada seorangpun yang mau dekat
denganku”. “menurutku, tiap orang punya karakternya masing-masing. Jadi untuk
apa aku menjauhi kamu. Dan Brian, kalau kamu menyayangi seseorang, kamu juga
harus siap disakiti. Tapi apa artinya hidup kalau kamu tidak merasakan
keduanya, aku rasa kamu harus membuka hatimu Brian. Termasuk kepadaku”
jawabnya.
“kalo disakiti sama orang tua yang emang benar-benar
kamu sayangi gimana? Haa?” tanyaku dengan agak kecewa. “kecewa itu pasti
terjadi pada orang yang kita sayang, karena orang yang kita sayang itu tidak
selalu melakukan apa yang kita mau. Tapi kita harus siap menerima dan memaafkan
mereka Brian.” Jelas Putri. “apa yang kualami tidak semudah seperti yang kamu
katakan, kamu bicara seperti itu seolah-olah itu adalah hal yang mudah dan
sederhana. Itu karena kamu nggak pernah ngerasain itu semua Put” kataku.
“Brian, aku pernah mengalami hal yang sama sepertimu. Ibuku diusir dari rumah
oleh ayahku, dan entah dimana keberadaannya sekarang. Ayahku selalu pulang
larut malam dan hampir tidak pernah memperhatikanku. Aku juga dulu sama
sepertimu, tapi aku merasa rugi. Perasaan seperti itu menyiksaku, dan aku tidak
lagi memendam perasaan seperti itu lagi. Aku harap kamu mau berubah Brian”.
Seketika aku tercengang mendengar ceritanya, aku tertegun sejenak merenungkna
kata-katanya. Akupun memegang tangannya dan berkata “aku nggak janji Put, tapi
bakal aku coba. Makasih ya buat semuanya” sambil mengedipkan mata kearahnya.
Diapun tersenyum dan sedikit tersipu
“iya, sama-sama. Semangat ya Brian” balasnya sambil tersenyum, dengan senyuman
manis yang menyejukkan hatiku yang dingin.
SELESAI
© Amati Roni Sentosa Z (Yogyakarta)



0 comments:
Post a Comment