*20 Agustus 2012 4.30 pm Kota Pelajar
Tuk…tuk…tuk… suara kaca
di ketuk . Mata hazelnya menerawang jauh berusaha meneliti jalanan di bawah
jendela itu. Dia terus mengetuk-ngetuk kaca dengan bolpoin yang dia bawa sedari
tadi karna suntuk menunggu. Dia benar-benar tak mempedulikan sekelilingnya,
peliharaan kesayangannya yang sedari tadi tidur di pangkuannya melompat ke
bawah karna si pemilik kaki tiba-tiba berdiri. Si pemilik tangan iseng ini
tiba-tiba berdiri dan menerawang seseorang yang sedari tadi di tunggunya ‘Itu mama’ batin Fantrisa Angelina Meylani. Meyla berlari
turun menuruni tangga dua dua “supaya cepat sampai bawah” alasan yang selalu
dia lontarkan ketika ayahnya bertanya. Sesampai di bawah dia langsung
membukakan pintu untuk mama kesayangannya.
“Mama sukanya gini deh telat
pulangnya. Padahal bilang jam 2 udah sampe sini eee jam 4 mama baru di depan
pintu” katanya manja
“Iii sayang… Maafin mama yaa. Hehehe”
“Iya deh ma"
Mereka beriringan berdua menuju ruang santai untuk bersantai bersama.
“Ma… Meyla minta sangu ma… Uangnya Meyla uda mau abis…” rengeknya manja.
Mamanya hanya tersenyum.”Ini sayang buat kamu special udah mama sedian buat
kamu” ia menyodorkan ATM yang isinya memang disengaja disediakan untuk anak
bungsunya ini “Asiikk mama baik banget”, ”Iya Sayang mama janji ga akan pergi ”
kata-kata Mama tiba-tiba membuatnya terkejut “Apaan sih ma mama pasti
sama Meyla terus laah ihh jangan bercanda deh ma”
Mama Meyla hanya tersenyum sambil membelai lembut kepalanya.
Kakaknya Yoga Yohanes Kurniawan seharusnya sudah bekerja
namun sudah pergi ke
sisiNya sejak 2 taun lalu..
Meyla memang berasal dari keluarga kaya, tapi dia tak pernah sombong atau
mengumbar kekayaannya.Jika memang ada yang butuh bantuannya pasti dia akan
membantu sebisanya. Banyak yang suka dengan dia bahkan dia diantik menjadi ketua
kelas di kelasnya.
Dia memiliki mmm… bukan
geng tetapi sekumpulan anak-anak bersahabat yang kemana-mana selalu berlima
senang ataupun susah. Agra, Sella, Septta dan Geras nama yang selalu ada di
samping seorang Meyla. Memang dia tidak mau gabung dengan geng anak kaya tapi
entah mengapa mereka berlima termasuk keluarga berada tapi jangan salah, mereka
berlima ini bukan orang yang sok-sokkan kok dengan yang lainnya. Bisa dibilang
mereka bersahabat sejak suara tangisan mereka yang bebarengan di rumah sakit
yang sama di hari yang sama bahkan hampir di jam yang sama. Anak anak ajaib
yang bisa lahir secara bersamaan dari rahim ibu mereka yang ternyata juga
bersahabat karib ,wow well well hmm, sejak saat itu mereka selalu bersama dari
TK, SD, SMP bahkan sampai SMA ini.
Akhir-akhir
ini keluarga Meyla baru balik ke Jogja karna tugas ayahnya di Medan. Tetapi
persahabatannya tetap terjalin. Meyla
anak dari keluarga berada yang bahkan siapa yag tidak kenal ibunya sang arsitek
rumah rumah keren di Nusantara ini dan ayahnya pemilik hotel yang tidak ada
yang tahu sudah berapa cabangnya bahkan ayahnya sendiri juga lupa sudah
mencabangkan dimana saja. Walaupun ayah ibunya memang orang yang bisa di bilang
orang penting tetapi mereka selalu meluangkan waktu mereka satu hari 2 kali
makan di meja yang sama pada pagi dan malam hari, Meyla memang memiliki
keluarga yang ideal.
*21 Agustus 2012 7.30 am
Kkrrrrrrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnggggg………
Bel masuk yang khas dari SMA Budya Wasesa membuat anak-anak
yang tadinya duduk-duduk di rumput berdiri lalu berlari ke kelas masing-maisng.
Namun teriakan dari toa sekolah ini tidak membuat kelima sahabat ini beranjak
dari tempat mereka.
“Sell… Mel.. Aku tadi ketemu cowok ketjeehhh gilaakkk dia senyum ke aku
dia buseett keren banget makk OeMG”
“Ya ampun Sep kamu ma emang apa-apa leleh. Ehh ini uda masuk
lho ayo masukk”
“Arrgghhh!! Lu nih Ras sok rajin ntaran aja ngapain jugak
males ekonomi mending tidur”kata Agra kembali tiduran di rumput.
“Sssttt Agra kamu berisik dehh udah kita
disini dulu aja kangen-kangenan dulu sama si Meyla yang baru balik dari Medan
iihh”
“Septta
Agra ayo lah si
Geras bener kalik ayo masuk pelajaran bu Ninik lho kangen-kangenannya ntar aja”
“Iya bener kamu Sell duhh Sep namaku Meyla bukan Mella udah
ayo masuk kalian nih debat aja bisanya”
Mereka beriringan berdiri di mulai dari Meyla dan di ikuti
Septta dan Sella si kembar dari pemilik restoran mewah di kota ini lalu Agra
Wasesa putra dari pemilik sekolah ini membuntutti sambil menarik berdiri Geras
Brahmana pemain basket juga orang paling kece di skolah ini sang pemilik hotel
berbintang di kota ini juga. Sesampainya mereka di kelas bu Lilik yang biasanya
memberi pengumuman tugas sudah di dalam menuliis tugas ekonomi hari ini karena
bu Ninik sakit.
“Anak-anak ini ada murid baru. Silahkan
masuk Nak”
Seorang cowok jangkung ga kalah keren
dari Geras masuk semua anak perempuan histeris
bahkan ada yang berkata “Ihh gilak lebih keren kalik dari Geras OeMG” sang
pemilik nama pun menunduk di meja tanda kecewa karna
ada laki-laki lain yang menandingi ke ketjehannya.
“Mey Mey itu cowok yang aku maksud waktu
di parkiran yang aku ceritain tadi itu lho keren kan”
Muka Meyla mendadak pasi. Terkejut ‘Ngapain sih tu bocah kesini nyebelin’
“Gua Anggada Septta double ‘T’ ya..”
“Baik Anggada kamu duduk di belakang
Septta ya. Ibu pergi dulu.”
Semua anak yang ada di kelas menatap iri kearah Septta. Angga duduk di belakangnya dan berkata
“Hay tadi kita ketemu di
parkiran kan? Boleh tau namamu siapa?”
Septta yang luluh itu hanya tersenyum malu dengan muka memerah dan
menjawab “Septta, double T juga hehe” dengan sumringah yang di buat-buat Angga
menjawab “wuuiihhh nama kita kembar keren ya jangan-janggan kamu jodohku” kata
Angga sambil memegang hangat tangan Septta. Semua anak perempuan di kelas
itu tampak cemburu dan memandang iri ke
arah Septta Tetapi diantara anak-anak itu hanya Meyla lah yang memasang wajah
dingin dan jutek. Ada satu rahasia yang seharusnya Septta tau tapi jangan saat
ini, karna Meyla tau Septta sedang jatuh hati, akhirnya. “Udah udah udah
sinetron sinetronannya udaah sekarang mending nggarap ekonomi aja. Anggada
Septta silahkan duduk sudah cukup sandiwara pahlawanmu itu” ujar Meyla sambil
menggebrak meja tidak terima sahabatnya di perlakukan seperti itu.
“Kamu kenapa sih Mey pulang dari Medan
jadi aneh gitu?”
“iya tuh Meyla aneh banget cemburu kali
ya”
Kata teman-temannya tak suka. Meyla
hanya terdiam terpengkur di kursinya memakai headset di kupingnya dan menekuni soal-soalnnya. Meyla masih heran sebenarnya ini kenapa. Ada
sesuatu yang sebenarnya dia sembunyikan hal yang tak satupun orang tau apa yang
sebenarnya terjadi. “Hoy kamu tu kenapa sih ?” tegur Septta sambil menepuk
pundak Meyla yang mengagetkan cewek pemilik mata hazel itu. “Ehh.. SSeepp..
Nggaa… Gak papa kok hehehe ga ada apa-apa kok” sahut Meyla terbata-bata karna
baru pertama kali dia harus membohongi sahabatnya ini. Septta yang tidak tau
apa-apa hanya pasrah lalu kembali ke bangkunya untuk kembali menekuni buku
ekonominya.
*21 Agustus 2012 3.30 basecamp
Saat berkumpul di basecamp selalu tercipta entah dari Geras
dan Agra yang selalu berdebat masalah kecil Septta Sella dan Meyla yang selalu
bergosip ria, sekarang menjadi sunyi sepi hanya karna Meyla si pembuat gaduh
basecamp orang yang selalu mengawali kegaduhan mendadak seperi patung di candi-candi
tak berkutik dari kursi kesayangannya. Hanya karna hal di sekolah membuatnya
menjadi sedikit pendiam.
“Mey kalo ada hal yang mau kamu bicarain bilang aja jangan
diem gini kita jadi gatau.. Ga ngerti deh kamu tiba-tiba gini” kata Sella
mengawali kecanggungan diantara mereka.
“iya Mey semisal ada sesuatu mending kamu cerita aja” sahut
Septta tak mau kalah
“Aku sama Agra pasti dengerin”
“Gua sambil tidur gini masi bisa dengerin lu Mey suer” jawab
Agra yang sedari tadi tiduran sambil mengangkat dua jarinya.
Meyla masih terus terdiam di kursinya. Berat baginya untuk
mengatakan hal itu, dia takut melukai hati sahabatnya.
“Aku cuma pengen jangan deket-deket sama si anak baru. I hope
you all trust in me”
Kontan semua kaget mendengar jawaban Meyla yang lirih namun
tajam. Agra bahkan hampir terjatuh dari kasur. Semua kontan meihat kearah Meyla
yang begitu mantap mengatakan itu.
“Please aku cuma pengen kalian ngga usah deke-deket Angga.
Dia ga sebaik yang kalian lihat dia ga semenarik yang kalian lihat. Aku bsa
baca itu. Septta kamu jangan gampang luluh lah sama Angga” jawab Meyla dengan nada
sedikit di tinggikan.
“Kamu kenapa sih Mey ! Kamu gak ceritta ?! Gitu sahabat iya ?
Aku ga percaya ceritalah kita bakalan percaya kalo kamu cerita sama kita”
Kata Septta menanggapi Meyla yang menjadi aneh . Suasana
kembali hening Meyla yang sedari tadi menatap teman-temannya kini tertunduk.
“Pokoknya jangan. Please trust me guys”
Jawab Meyla dengan suara getir lalu dia berdiri dan pulang
kerumah. Suasana basecamp menjadi dingin sepeninggal Meyla. Septta semakin merasa
ada keanehan dari sahabat karibnya, biasanya kalau ada masalah pasti Septta lah
orang pertama yang tau kemudian barulah sahabat yang lainnya. Septta menjadi
lebih murung dari biasanya. Atmosfer basecamp mereka sekarang serasa ada di
tengah hutan di kutub utara. Dingin dan mencekam.
“Gua mau balik kedinginan gua disini”
“Gra ikutan! Sep Sell balik ya”
Kedua perempuan yang di panggil itu hanya menatap nanar
sahabat mereka yang keluar dari basecamp mereka. Tak biasanya kedua kembar ini
tidak saling tegur atau saling curhat. ‘Sepi
banget. Meyla aneh banget kenapa sih’ gumam Septta sambil menarik berdiri
Sella. Klek.. Suara pintu basecamp terkunci Septta duduk di belakang kemudi dan
Sella di sebelahnya. Jazz silver itu meluncur di jalanan lengang itu.
*3 hari setelah kejadian basecamp 9.45 am istirahat pertama
di sekolah
“Mey ayo
laahh kita makan ber 5 lagi yaaa sepi tau ga ada kamu aku mau curhat udah lama
kita ga bareng-bareng”
Meyla memang merindukan temannya ini terutama sahabatnya yang
selalu dia jadikan bak sampah pertama saat dia ada masalah. Septta terus
membujuk Meyla dengan iming-iming akan di bayari ‘ah itung-itung sebagai salam… eehh salam apaan cobak’ gumam Meyla
sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Meyla yang memang merasakan kerinduan
dengan mereka ini langsung menarik keluar Septta dan Sella untuk menuju kantin.
Akhirnya mereka kembali bercanda ria seperti sedia kala sampai,
“Agra sama Geras kemana sih gak nongol batang idungnya?”
“Baru main basket tuh ketambahan si Angga juga” jawab Sella
malu-malu ‘Angga?’ gumam Meyla gusar.
Wajah tersipu Septta membuat Meyla bertambah kesal dengan Angga.
“Duh Sep kamu nih ngomong Angga aja pake tersipu tuh Mey
Septta falling in love sama si Angga gara-gara kemaren diajak makan tuh. Dasar
Septta gampang falling in love”
Kata-kata Sella barusan benar-benar membuat Meyla kesal ingin
meluapkan semua kekesalannya ini namun Geras Agra dan Angga sudah datang.
“Wihh tumben Meyla ikutan. Knapa Mey ?”sahut Angga sinis.
Meyla benar-benar sudah sangat kesal dan menggebrak meja “Gua cuma pengen lu
pergi sekarang! Gua ga suka lu gangguin sahabt-sahabat gua! Jangan pernah
deketin mereka lagi ngerti lu?!” bentak Meyla keras yang membuat seluruh isi
kantin melihat kearah mereka. Sahabat-sahabatnya hanya melongo melihat kejadian
itu. Septta bertambah kesal dan ikut berdiri menggebrrak meja “Kamu kenapa lagi
sih Mey! Angga baik kalik! Dia mau nganterin kita balik! Dia beliin kita makan!
Dia ngajarin kita pr!” Meyla semakin gusar “WHAT?! Cuma gara-ara diajarin PR,
dibayarin makan dianter pulang lu langsung falling
in love sama Angga?! Gua bisa kali please jangan matr!” Septta memegang
kepala dan menjawab lagi “Maumu apaan sih Mey?! Kamu suka Angga sana ga usah
nagatin aku matre! Ahh kalo kamu bukan sahabatku aku mungkin ga akan nganggap
kamu ada karna memang udah ada si Angga Mey !!”
Mendengar hal itu Mey tersentak. Dia benar-benar tak percaya
seorang Septta sahabat karibnya selama ini bisa mengatakan hal sekejam itu.
Kekecewaannya terhadap Septta tergambarkan oleh air mata yang jatuh ke pipinya.
Sahabat-sahabatnya tersentak melihat hal itu karna seorang Meyla yang cablak
dan gokil bisa menangis, “Iya Sep, Sell, Gra, Ras… A..aaku… Ga akan gangguin…
mmmhh… Persahabatan kalian lagi… aku janji ini untuk yang pertama dan terakhir
kali …” dengan tangis tertahan Meyla mengungkapkan hal itu dan pergi
meninggalkan sahabat masa kecilnya, hanya karna seorang Angga temannya dari
Medan. Tak ada seorangpun tau hal itu. Meyla tau betul siapa Angga makanya dia mati-matian
membuat sahabat-sahabatnya menjauhi seorang Angga. Hal itu benar-benar
membuatnya menangis dan sangat terpukul. Tak jauh dari pandangan
sahabt-sahabatnya itu tiba-tiba Meyla merasakan pusing tak tertahankan. Dia
memegang kepalanya berusaha meraih tiang di dekatnya tapi apa daya dia terjatuh.
Kepalanya terantuk ujung ubin tangga, hidungnya mengeluarkan darah yang tak
biasanya dilihat oleh sahabatnya. Setau mereka Meyla tak akan mimisan bila
terjatuh. Kepalanya mengeluarkan darah. Agra Geras Sella dan Septta berlari
sekencang-kencangnya untuk menolong sahabat karibnya yang tampk berusaha bangun
namun tak kuat. “Eghh… Aku gapapa… ahh sakit… Aku kenapa? Aku gapapa kan? Sakit
kepalaku Sep… sakit tapi aku gapapa … sakkiitt..”
“Ahahaha kamu aneh Mey kamu jatuhh.. Astaga!! Kepalamu Mey!!
Agra cepetan gendong!! Geras kamu siapin mobil!! Cepetaann !!”
Huru-hara mulai terdengar. Hal itu semakin membuat Meyla yang
ada di gendongan Agra bingung. Semuanya buram tak jelas apa yang dia lihat
semuanya serasa tak ada suaranya hanya tinggal suara batinnya ‘aku gapapa kan Tuhan? Kenapa ? kenapa aku
di gendong Agra? Kenapa Septta nangis.. tanganku tak bisa diangkat.. kepalaku
sakit.. aahh aku tak bisa dengar apa yang mereka katakan… pusing kepalaku.. mataku
berat… Tuhan kejadian ini terulang lagi…’
Geras mendahului Agra untuk membukakan
pintu untuk sahabatnya itu. Septta dan Sella menangis karna Meyla sudah
memejamkan mata Meyla terlihat pucat pasi. “Geras ayo cepetan jangan
ngebut-ngebut tapi cepet. Ati-ati ayoookkkk” kata Septta panik. Kemudian mereka
masuk mobil, Agra di samping Geras yang menyetir,
Septta memangku kepala Meyla, Sella memangku kaki Meyla. Septta
membelai kepala Meyla yang sudah tak sadarkan diri. Lalu Septta melihat mata Meyla sedikit terbuka “Mey..
hiks.. kamu gapapa kok kita jamin” kata Septta di sela tangisnya Meyla menjawab
“Aku… gapapa… A..aa…aakuu… cuma…. bu…butuh… tii..dur” kata Meyla sesaat
kemudian kembali memejamkan mata. Septta semakin panik “Geraaasss cepetaannn….
Hwwwaaaaa… Meeeyyyy….”
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung membopong Meyla
menuju suster yang di dekat situ dan menaruh Meyla di sebuah kasur.
“Mey please buka mata Mey”
Rengek Septta dan Sella bebarengan. Meyla yang menggunakan
alat bantu bernafas itu di dorong menuju ruang ICU.
Sekitar 15 menit setelah Meyla masuk ICU orangtua Meyla datang.
Mereka tidak terlihat menangis tetapi mereka hanya terlihat sedih tanpa ada air mata karna mereka
memang sudah tau hal ini akan terjadi.
Disitu orang tua Meyla mulai bercerita tentang Meyla Dia mengidap suatu penyakit mirip tumor tetapi ini menyerang syaraf di sekitar otaknya
yang membuatnya mimisan setiap merasa pusing. Ibunya yang mereka kenal ibu paling tegar kali ini dia
tak dapat menahan air matanya dia menangis sambil menceritakan apa
yang terjadi pada Meyla selama ini. Meyla
di Medan bukan sekedar pindah dan berlibur, tapi dia juga melakukan terapi yang
memang sudah akut. Dia tak ingin membuat sahabat-sahabatnya kuatir jadi dia
berbohong tentang penyakitnya ini. Dia benar-benar menyayangi sahabat-sahabatnya ini
melebihi siapapun.
Di Medan dia sempat bersih dari
penyakitnya kemudian dia bersekolah di Medan 1 tahun. Disana dia bertemu dengan
Anggada Septta orang yang mendekatinya saat itu. Angga selalu mengajaknya main
dan membuat seorang Meyla nyaman dengan laki-laki untuk pertama kalinya. Walaupun mamanya sudah memperingatkan untuk tidak terlalu
dekat dengan Angga yang selalu meminta ini itu pada Meyla anak orang kaya ini Meyla membantah. Dia benar-benar merasa sangat nyaman bersama seorang Angga
ini, namun suatu hari Meyla melihat Angga berpelukan dengan seorang perempuan
di tempat mereka janjian untuk salam perpisahan. Disitu dia benar-benar sedih
dan mengalami hal yang sama seperti hari ini. Dia pingsan dan membuat dia
hampir memejamkan mata untuk slamanya tetapi keajaiban berpihak pada Meyla. Dia
membuka matanya 2 hari setelah kejadian itu tetapi dokter berpesan untuk
meminimalisir kejadian ini karna sekali itu terjadi tidak tau akan seperti apa
lagi. “Keajaiban tidak datang dua kali. Iya kan yah” kata mama Meyla di akhir
cerita sambil memeluk suaminya. Ke empat orang sahabat ini menangis Agra yang
tak pernah menangis sekarang dia menangis tak bersuara. Geras menepuk pundak
Agra dan ikut menangis. Suasana hari itu benar-benar membuat atmosfer rumah
sakit bersedih semua.
Beberapa menit kemudian dokter yang
menangani Meyla keluar dari ICU. Dan terlihat tubuh Meyla di dorong dan di
pindahkan ke ruang inap yang biasa.
“Keluarganya Meyla?”
Sebentar mereka semua saling pandang
kemudian mantap menjawab “YA!!” Dokter tersenyum dan memulai menjelaskan
“Keadaan Meyla lumayan membaik tapi belum sadarkan diri. Sudah di pindahkan ke
ruang biasanya. Bisa di jenguk tapi jangan terlalu mengganggu. Jangan terlalu
berisik”
Mereka semua masuk keruangan Meyla,
kontan Septta menangis sejadi-jadinya di ikuti Sella. Orangtua Meyla menatap
nanar anak bungsunya yang selalu bersama mereka yang selalu bercanda di rumah. Disaat
semuanya menangis datanglah Angga. Agra yang benar-benar sudah naik pitam ingin
menghajar Angga saat itu juga, tetapi ditahan oleh Geras “Sabar Gra” Semua
memandang Angga yang berdiri di ambang pintu sambil menunduk. “Sini nak Angga
gapapa kok sini mungkin kamu bisa jelasin ke kita tentang waktu itu” kata mama
Meyla. Angga berjalan mendekati ranjang Meyla ragu-ragu. Angga mulai
menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Saat dia mendekati Meyla dia memang
benar-benar suka dan nyaman dengan Meyla semua barang yang dimintanya itu hasil paksaan sepupunya, tetapi saat dia memeluk perempuan itu
sebenarnya dia sepupunya yang
meminta barang-barang itu. Angga benar-benar ingin menjelaskan tetapi Meyla keburu sampai
Jogja. Dan saat itu juga dia berusaha ke Jogja untuk menemui dan menjelaskan
semuanya, tetapi saat di sekolah dia berusaha mendekati Meyla namun dia selalu
menjauh. Angga benar-benar menyesal tentang semua yang terjadi karena itu semua
diluar apa yang dia rencakan. Sebenarnya dia ingin menembak Meyla tetapi
sepupunya itu datang memeluknya karna memang dia baru merasakan sedih dan Angga
adalah teman curhat sepupunya itu.
Belum sempat Angga menghela nafas ibu
Meyla memeluknya “Kamu anak yang baik nak. Maafkan mama yaa saya ga tau kalo
kamu memang anak baik” mendengar hal itu dia mulai menangis. Segala hal yang
dia lakukan tidak sia-sia “Ma aku sudah terlambat kasih tau Mey ya. Maafin
Angga ya”
“Nggak Ngga lu belum telat Mey udah
bangun sana bilang”
Kata Agra memberi tahu. Kontan semua
mendekati Meyla terutama Angga. “Hay.. Aku gapapa kok serius” kata Meyla pelan
Angga menggenggam tangan Meyla “Ngga... Kamu ngapain disini?” kata Meyla
menarik tangannya. Memang dia masih lemas tapi dia benar benar bisa menarik
tangannya. Angga menjelaskan dengan terisak. Tak tahu lagi harus bagaimana rasa
takut kehilangan perempuan ini terus menjalar sampai keubun-ubun membuat
genangan air di pelupuk matanya mengalir deras menuruni pipi dekiknya. Meyla
yang mendengar hal itu tersenyum dan menggenggam tangan Angga “Gapapa Ngga. Oh
iya aku mau pesen sama kamu Ngga. Jagain Septta yaa... Aku pesen itu..” kata
Meyla menggenggam erat tangan Angga dan menyatukan tangan mereka. Semua
tersenyum Angga pun tersenyum. Ingin dia mengatakan sesuatu pada yang lain
tetapi kata-kata lain keluar dari mulutnya terasa sesak rasanya “Aku... sayang
kalian. Jagain.. mama ya pa.. Temen-temen kalian jangan pernah pisah ya... kalo
ada masalah jangan selesaiin sendiri kalian harus ngobrol okee... Inget bangun
kepercayaan kalian ya.... Makasih ya buat selama ini... Aku sayang kalian...”
kata Mey terbata-bata lalu perlahan genggaman tangannya di tangan Angga
melemas. Mendadak hening semua. Mama mulai terisak disusul oleh si kembar.
Semuasedih semua menangis “Aaarrggggghhhhh.....!!!” Agra menjerit tak kuat
menahan tangisnya. Untuk pertama kalinya mereka merasa sedih hanya berempat
saja meskipun kini sudah ketambahan Angga tetapi benar-benar berbeda rasanya.
*26 Juli 2015 di pemakaman umum
Terasa sunyi rasanya. Hari ini sekolah
libur karna semua anak, staf dan guru mendatangi pemakaman Meyla. Kelima
sahabat baru ini terisak berdiri di paling depan melihat untuk terakhir kalinya peti putih milik Meyla. Septta
mennagis di pelukan Angga dan kontan Sella memeluk Geras. Agra semakin menangis
karna sekarang dialah yang jomblo padahal dulu saat pemakaman kakak Meyla
dialah yang dipeluk. Pemakaman hari itu penuh isak tangis. Banyak laki-laki
yang mengungkapkan perasaan sebenarnya kepada orang tua Meyla. Kontan Ayah
Meyla tertawa tapi istrinya itu menyikut perut suaminya itu yang membuat Ayah
Meyla ini kesakitan sampai menunduk. Kelima sahabat itu tertawa melihat
kekonyolan orangtua Meyla “Ma sekarang kita berlima mau di anggap anaknya tante
gapapa lho apalagi si Angga diakan ‘merantau’ ke Jogja” kata Sella nyeplos mama
Meyla hanya tersenyum “makasih ya aku udah nganggap kalian anak-anakku kok”
kontan mereka semua memeluk mama kedua mereka. “Saya ngga bisa nyari pengganti
Meyla kalian tau sendiri anak tante dua-duanya uda ga ada. Ya tapi ada kalian
ngga papa kok. Walaupun rumah bakalan sepi rumah ga ada yang gebrak-gebrak lagi
ga ada yg turun tangga dua-dua lagi, ga ada yang mainan Momo anjing kesayangan
lagi. Ah semuanya jadi berbeda gapapa kok ada kalian semua. Mama sayang kalian”
kata Mama membuat yang lain ikut terisak. Semua yang ada di dunia ini hanyalah
milikNya. Kita tak bisa mengubah apapun yang direncakan Nya tetapi mungkin kita
bisa memperbaikinya. Kalau kita bisa mengubahnya kenapa tidak? Percaya saja
satu sama lain yakin pertengkaran kalian akan selesai. Percayalah.
©Elista Vioni L.S (Yogyakarta)