Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, October 27, 2016

Cerpen Remaja SMA - Lukisan Salju

Pagi yang cerah di Kyoto, semua orang menjalankan aktivitas mereka dengan penuh semangat, kecuali seseorang. Disalah satu kamar apartemen, seorang pemuda masih terbuai oleh mimpinya. Sebelum handphone dan alarmnya berbunyi bersamaan. Remaja itu mematikan alaremnya kemudian mengambil handponenya di nakas.
            “Halo,” ujarnya pelan sambil menguap.
            “Shiro, selamat pagi” terdengar suara lembut seorang wanita.
            “Ibu, selamat pagi,” jawabnya masih dengan setengah kesadaran.
            “Ibu hanya mau mengingatkanmu, hari ini Yuki akan tiba pukul 4 sore. Jangan lupa untuk menjempunya.”
            “Apakah dia harus tiggal bersamaku? Dia itu perempuan,” kali ini Shiro sudah benar-benar bangun. Dari nada suaranya, tampak dia masih belum bisa menerima keputusan ibunya.
            “Apartemenmu kan memiliki dua kamar. Memangnya kenapa kalau dia perempuan, dia anak sahabat ayahmu. Dia juga temanmu saat kita masih di Amerika,” ujar ibunya mencoba meyakinkan.
            “Tapi saat itu usia kami masih 8 tahun, sekarang kami sudah berusia 20 tahun. Memangnya ada apa dia tiba-tiba kembali ke Jepang?”
            “Bukankah sudah kuberitau sebelumnya?”
            “Tidak, ibu hanya bilang dia kembali dari Amerika. Dan ibu menyuruhku tinggal bersamanya.”
            “Oh, kurasa aku lupa memberi tahumu. Ayahnya Yuki meninggal 2 minggu yang lalu. Ayahnya menyerahkan hak asuhnya dan mempercayakan perusahaannya kepada ayahmu.”
            “Jangan bercanda bu, berita sebesar ini kau baru saja memberitahukannya kepadaku. Kurasa banyak hal yang kulewatkan.”
            “Tentu saja, kau jarang menelpon ke rumah. Kau juga sudah tidak pulang selama 3 bulan. Padahal kau bisa naik kereta ke Nagasaki, dan kurasa itu tidak akan menghabiskan banyak waktumu. Sudahlah, ibu harus berangkat ke bandara sekarang. Jangan lupa jemput Yuki. Kau yang bertanggung jawab astasnya sekarang.” Ibunya langsung menutup sambungan telponnya.
            Shiro meletakkan handphonennya, pandangannya menerawang keluar jendela. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Yuki. Eantah seperti apa dia sekarang. Yang dia tau Yuki menjadi seorang pelukis terkenal disana, itupun dia mengetahuinya saat seorang temannya menunjukan majalah seni miliknya kepadanya. Gadis itu memang memiliki bakat melukis sejak kecil. Dia masih ingat saat Yuki melukis bunga lili, bunga itu benar-benar terlihat hidup. Dan dia rasa ibunya benar, dia sudah banyak melawatkan hal-hal penting. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai editor manga di perusahaan penerbita Marukawa, dan dia tidak menyangka jika separah itu. Mungkin lebih baik jika dia mengambil cuti dari pekerjaan sampingannya untuk dua hari kedepan. Lagipula dia sudah memeriksa naskah Usami sensei. Jadi dia hanya perlu menunggu manganya selesai. Dia benar-benar tidak habis fikir, dia bahkan tidak tahu tuan Akiyama meninggal 2 minggu yag lalu. Pantas saja 2 minggu yang lalu ibunya tidak pernah menelfnnya atau mengirimanya pesan, padahal biasanya ibunya selalu saja mengirim pesan meskipun dia tidak membalasnya.

            Dan disinilah dia sekarang, di stasiun Kyoto.Menunggu seseorang yang sudah 12 tahun tidak pernah ia temui. Entah dia bisa mengenali Yuki atau tidak. Didalam ingatannya dia hanya mengingat gadis kecil dengan rambut dan mata hazel. Dan senyum yang selalu terukir diwajahnya. Ya, dia pasti bisa mengenali Yuki.
            “Shiro-kun,” seorang gadis menepuk pundaknya pelan. “Kau sudah menunggu lama?”
            “Tidak,” jawabnya setelah terdiam beberapa saat. Gadis dihadapannya memang memiliki rambut dan mata hazel. Namun, senyuman diwajahnya tidak seperti dulu. Rasanya seperti ada yang berbeda, seperti ada yang disembunyikan atau ditutupi. Ah, tapi mungkin itu karena dia masih berduka. Itulah yang ada difikirannya.
            “Kau akan bersekolah di universitas yang sama denganku, kau mengambi jurusan apa?” Shiro berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka. Meskipun Yuki pastinya sudah tau jika dia akan bersekolah ditempat yang sama dengan Shiro.
            “Ya, bibi sudah memberitahukannya, tentu saja seni.” Ya tentu saja seni. Pertanyaan bodoh apa itu. Dia juga kan sudah tahu kalau yuki itu pelukis, seorang seniman.
            “Aku turut berduka atas meninggalnya ayahmu.”
            “Terimakasih, tidakkah kau terlalu formal,” Yuki terkekeh pelan.
            “Yah, kurasa karena kita sudah lama tidak bertemu.” Alasan macam apa itu.
            “Biasa saja, bagiku meskipun sudah lama Shiro tetaplah Shiro. Kau tetap seperti dulu, tidak berubah,”
            “Kuanggap itu sebagai pujian,” ujar Shiro, meskipun dia tidak begitu paham dengan maksud Yuki.
            “Kau selalu berfikir positif ya,” ucap Yuki diikuti tawa mereka.
            “Yuki, hari ini pastikan kau benar-benar sudah bisa mengingat jalan pulang. Besok aku sudah kembali bekerja, jadi mulai besok kau akan pulang sendiri.”
            “Tenang saja, aku bukan anak kecil. Jika aku tersesat, aku masih bisa bertanya.”
            “Kalau begitu aku duluan.”
            “Jangan tidur dikelas dan jangan mengedit manga dikelas.”
            “Aku memang punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi aku tidak akan mengerjakannya dikelas,” ujar Shiro sambil berlalu.
            Hari ini seharusnya dia masih libur. Namun tiga asisten Usami sensei sedang sakit, jadi sebagai editornya dia harus membantu pengerjaan manganya. Karena besok mereka harus menyerahkannya ke percetakan. Jadi hari ini dia terpaksa membiarkan Yuki pulang sendiri. Padahal gadis itu masih belum menghafal jalan. Dan sepertinya dia juga akan pulang malam atau bahkan menginap di rumah Usami sensei. Lebih baik dia memberitahukan ke Yuki, agar gadis itu tidak perlu memasakan makan malam untuknya. Yah, sebaiknya dia menemui Yuki dikelasnya sekarang.
            “Hai, kau tau murid pindahan dari Amerika itu?” terdengar bisik-bisik dari gadis-gadis yang berkumpul di lorong dekat kelas seni.
            “Akiyama Yuki, gadis itu benar-benar menyebalkan. Hanya karena dia pelukis terkenal, bukan berarti dia bisa melukis sebebasnya dikelas.”
            “Ya, dia barusaja datang dan langsung dijadikan wakil untuk pameran universitas.”
            “Lukisannya memang bagus, tapi sikapnya seperti tidak peduli kepada orang lain. Dia seperti tidak menganggap orang-orang disekitarnya itu ada.”
            “Tadi aku menyapanya saat istirahat, dan dia bahkan tidak mengingatku padahal aku selalu duduk disebelahnya. Benar-benar parah.”
            Ya benar-benar parah. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Yuki. Yuki yang dia tahu adalah anak yang ramah dan berteman dengan siapa saja. Dan sekarang para gadis itu membicarakannya seakan dia adalah gadis penyendiri yang tidak peduli kepada orang lain.
            “Kau Takahasi Shiro kan?”salah seorang gadis menyadari keberadaanya. “Apa kau mencari Akiyama-san?”
            “Ya, apa kau tahu dimana dia?”
            “Dia masih diruang seni, kurasa dia masih sibuk dengan lukisannya.”
“Terimakasih,” Shiro berlalu menuju ruang seni.
            Dan tepat seperti dugaannya, disana Yuki sedang sibuk melukis sendirian. Gadis itu seperti berada di dunianya sendiri, tidak memperdulikan sekitarnya. Matanya dan tangannya fokus pada kanvas dihadapannya. Bahkan dia tidak memperdulikan butiran salju yang masuk melalui jendela. Shiro bahkan sangat yakin jika gadis itu pasti tidak menyadari kehadirannya. Jika diperhatikan, Yuki yang sedang melukis masih sama seperti dulu. Tangannya bergerak dengan lincah, mata hazelnya fokus pada lukisannya. Masih sama, masih seperti Yuki yang dulu. Hanya saja jika Yuki yang dulu dia perhatikan dari jendela selalu melukis bersama teman-temannya. Namun gadis yang ada dihadapannya sekarang melukis sendirian. Dulu saat Shiro masih tinggal di Amerika, dia sering datang ke galeri tempat Yuki belajar melukis. Dia sering memperhatikan Yuki dan teman-temannya yang melukis. Dan saat mereka selesai melukis, mereka akan meminta pendapat dari Shiro. Terkadang mereka menyuruh Shiro menjadi juri dan memilih salah satu lukisan yang menurutnya paling bagus.
            “Shiro, sejak kapan kau disini?” Yuki tampak terkejut dengan kehadirannya.
            “Beberapa menit yang lalu, kurasa.”
            “Bukankah kau harus kerumah Usami sensei untuk membantunya menyelesaikan manganya?”
            “Ya, aku hanya mau memberitahumu mungkin nanti aku akan pulang larut atau mungkin menginap dirumah Usami sensei. Jadi kau tidak perlu menyiapkan makan malam untukku.”
            “Kau membantu menyelesaikan manga kan? Kurasa aku bisa ikut membantu, misalnya dengan mewarnai betanya,” ucap Yuki antusias.
            “Kurasa bisa, tapi ini adalah pekerjaanku. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain.”
            “Apakah aku ini orang lain bagimu?”
            “Bukan seperti itu,” jawab Shiro serba salah
            “Kalu begitu aku ikut, aku membantu karena keinginanku sendiri. Jadi kau tidak merepotkan siapapun,” Yuki memasang puppy eyes andalannya
            “Kalu begitu ayo, kita harus segera berangkat kesana,” yah mau bagaimana lagi. Jika Yuki sudah berniat membantu, tidak ada yang bisa merubah keputusannya. Lagipula jika yang membantu lebih banyak pasti akan lebih cepat selesai.
            “Sudah berapa lama kau menjadi editor Usami sensei?”
            “Kira-kira sudah hampir satu tahun. Sebenarnya aku hanya asisten dari editor Usami sensei. Editor sebenarnya adalah Haruyuki-san. Kau akan bertemu dengannya nanti.”
            “Begitu, apa kau berencana menjadi pegawai tetap dan menjadi editor sebenarnya?”
            “Masih belum kufikirkan, tapi saat ini aku menikmatinya.”
            “Begitu ya.”
            Ya, dia benar-benar masih belum memikirkan tetang apa yang akan dia lakukan untuk kedepannya. Tapi dia mememang menikmati pekerjaanya sebagai editor. Dan sejauh ini tidak ada hal lain yang dia kerjakan selain menjadi asisten editor. Mungkin dia akan tetap menjadi editor nantinya.
            “Kita sudah sampai.” Mereka tiba disebuah rumah besar bergaya eropa. Dari luar, suasana rumah itu terlihat sangat tenang. Tapi seperti kata pepatah jangan melihat sesuatu hanya dari luarnya. Didalam rumah itu benar-benar sedang terjadi kerusuhan.
            “Permisi,” ucap Shiro dan Yuki bersamaan.
            “Shiro, cepat kemari. Selesaikan bagian ini!” terdengar suara Haruyuki-san.
            “Sensei cepat selesaikan gambarmu,” kali ini suara asisten Usami sensei. “Siapa yang bertugas mewarnai betanya?” lanjutnya.
            “Biar aku yang melakukannya,” Yuki langsung menwarkan dirinya.
            “Oke, cepat kerjakan. Warnai yang sudah ada tandanya!”
            “Baik,” Yuki langsung mulai mengerjakan dengan serius. Dan dia dapat mewarnai 50 halaman hanya dalam waktu dua setengah jam.
            Dan setelah jam-jam penuh perjuangan akhirnya manga Usami sensei selesai tepat pukul dua pagi. Lebih cepat dari perkiraan, dan itu berkat bantuan Yuki.
            “Akhirnya selesai, kalian benar-benar menyiksaku,” ujar Usami sensei sambil menidurkan dirinya di sofa.
            “Salahmu sendiri mengerjakannya mendekati deadline,” balas asistennya, Ushio-san.
            “Yang penting sekarang kita sudah berhasil menyelesaikannya, aku akan membawanya ke percetakan nanti,” Haruyuki-san mencoba menengahi. “Ngomong-ngomong, nona ini siapa?”
            “Kalian dengan mudahnya menyuruhnya mewarnai beta, dan kalian baru menyadarinya sekarang,” ujar Shiro menghela nafas panjang. “Dia temanku, Yuki.”
            “Perkenalkan, saya Akiyama Yuki,” Yuki memberi salam kepada mereka.
            “Kau mengerjakan betanya dengan rapi, apa kau sering mewarnai beta?” tanya Haruyuki-san.
            “Ini pertama kalinya saya mengerjakan beta.”
            “Kalau begitu kau berbagat Yuki-chan,” puji Ushio-san
            “Dia seorang mahasiswa jurusan seni” tambah Shiro
            “Sering-sering ya kau membantu kami,” ucap Usami sensei tanpa dosa
            “Kau benar-benar tidak tahu terimakasih ya, sensei,” sindir Ushio-san. “Kau seharusnya merasa malu, sampai-sampai temannya Shiro-kun ikut membantumu.Maaf sudah merepotkanmu, Yuki-chan. Dan terimakasih bantuannya.”
            “Tidak apa-apa, aku senang bisa membantu,” ujar Yuki sambil tersenyum.
            Selanjutnya mereka menghabiskan waktu pagi itu dengan penuh tawa.
            “Yuki, lihat ini!” Shiro menunjukan fax yang baru saja dia dapat dari Ushio-san. “Ini dari perusahaan, mereka membuka lowongan bagian desain. Kami fikir ini cocok untukmu, Kau merupakan pelukis yang berprestasi, jadi mereka pasti menerimamu.”
            “Kurasa aku bisa mencobanya, tapi bagaimana denganmu?”
            “Perusahaan akan merekrutku menjadi pegawai tetap saat aku lulus nanti.”
            “Selamat, sudah kuduga Shiro pasti bisa. Kalau begitu aku akan mencobanya, jika aku diterima kita berada di perusahaan yang sama kan?”
            “Ya, kalu begitu ini formulirnya. Kau bisa menyerahkannya besok.” Sebenarnya Shiro sudah sangat yakin jika Yuki pasti diterima.

            Selesai kuliah mereka menuju ke Marukawa shouten, perusahaan tempat Shiro bekerja untuk mengumpulkan formulir pendaftaran.
            “Yuki-chan,” Ushio-san menghampiri mereka dengan penuh semangat. “Kau ikut mendaftar juga ya.”
            “Ya, sebentar lagi kelulusan jadi aku harus mendapat peerjaan agar tidak merepotkan Shiro.”
            “Jangan berkata seakan-akan perusahaanmu itu tidak ada artinya. Bagaimanapun juga kau adalah pewaris perusahaan ayahmu.”
            “Ya, ya, ya, tapi sekarang ayahmu yang mengurusnya. Kalau begitu aku akan mengumpulkan formulirnya.”
            “Ok, setelah itukau bisa ke lantai 5. Disana adalah markas kami para editor,” tawar Ushio-san atau dari nada bicaranya lebih seperti memaksa.
            Setelah mengumpulkan formulir Yuki menuju lantai 5. Sebenarnya dia ingin langsung pulang, tapi karena Ushio-san sudah mengajaknya dia tidak bisa menolak. Lagipula dia bisa mengetahui tempat Shiro dan yang lainnya bekerja.
            “Yuki-chan,” sapa Haruyuki-san saat dia keluar dari lift. “Kau sudah menyerahkan formulirnya kan? Berarti selanjutnya kau akan mengikuti tes tertulis.”
            “Ya, tesnya akan diadakan minggu depan.”
            “Kau pasti bisa, aku yakin itu.”
            “Shiro juga berkata seperti itu kemarin. Terimakasih, aku akan berusaha.”
            “Yap, semangat. Kami semua mendukungmu.”
            Akhirnya dia pulang bersamaan dengan Shiro, padahal awalnya dia berniat berkunjung sebentar. Tapi disana dia malah terlalu asik mengobrol dan membantu para editor. Lumayanlah, dia mendapat tambahan pengetahuan.
            “Kau jadi pulang malam karena mereka, maaf ya.”
            “Jika aku diterima bekerja di Marukawa, aku pasti akan sering pulang malam.”
            “Ya, kau benar. Besok diadakan pameran seni kan? Kudengar kau akan menjadi pengisi acara disana besok.”
            “Ya, aku akan melukis didepan para pengujung bersama beberapa peukis lainnya. Selanjutnya lukisan kami akan dilelang oleh para pengunjung.”
            “Begitu ya, besok akan kuusahakan utuk datang ke pameran.”

            Hari ini hari dilaksanakannya pameran seni, dan hari ini entah kebetulan atau bukan Haryuki-san, Ushio-shan, dan Usami sensei -sebenarnya dia harus mengerjakan manganya, tapi deadlinenya masih lama- tidak memiliki pekerjaan. Termasuk dirinya juga. Jadi hari ini mereka semua ikut menghadiri pameran seni, beberapa editor yang pekerjaannya sudah selesai juga ikut. Pameran diadakan di aula utama yang kira-kira bisa menampung 10.000 orang. Sekarang sudah pukul 11 siang, jumlah pengunjung juga sudah cukup banyak. Ternyata masih banyak peminat seni saat ini.
            “Ayo, aku ingin melihat Yuki-chan melukis,” ajak Ushio-san penuh semangat
            “Shio-chan, kau benar-benar bersemangat ya. Kau sudah seperti fans-nya Yuki-chan,” ujar Usami sensei.
            Meskipun ini hanya pameran universitas, tapi lukisan yang dipamerkan tidak bisa dibilang biasa. Bagaimanapun, lukisan itu adalah lukisan terbaik dari para siswa. Disekeliling aula digantung lukisan-lukisan para siswa, ruang aula juga dibentuk mirip labirin dan disetiap dinding labirin yang terbuat dari papan digantung lukisan. Dan ditengah aula beberapa siswa sedang mempertunjukan keahlia melukis mereka. Yuki adalah salah satu dari mereka, dia berada dibarisan kedua. Meskipun begitu, dia terlihat paling mencolok dari yang lainnya. Ada banyak pengunjung yang berkumpul disekitarnya. Jika dilihat, cara melukisnya memang berbeda dari yang lain. Tangannya seperti menari-nari diatas kanvas, tubuhnya yang bergerak untuk mengambil cat ai juga bergerak dengan ringan.
            “Wah, banyak sekali yang mengelilingi Yuki-chan,” ucap Haruyuki-san kagum. “Benar-benar seperti yang diharapkan dari titisan Picasso.”
            “Titisan Picasso?” tanya Shiro heran.
            “Kau tidak tahu? Kau ini hidup dimana sih?” ucap Haruyuki-san. “Itu sebutan yang diberikan pada Yuki dari penggemarnya, dia itu sangat terkenal.”
            “Teryata dia benar-benar hebat ya,” guman Shiro. Dia tau kalau Yuki sering menjadi pemberitaan di majalah, tapi dia tidak tahu jika Yuki sehebat itu.
            Pengunjung yang mengelilinginya juga semakin banyak. Namun, gadis itu seakan tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya.
            “Kau benar-benar gadis egois, Akiyama Yuki,” seorang gadis dengan rambut blonde berbisik tepat ditelinga Yuki. “Tidak ingatkah dengan yang sudah kalu lakukan.” Seketika itu gerakan Yuki berhenti. Gadis yang berbisik ditelinganya berlalu pergi. Yuki diam mematung, dan dia menjatuhkan kuas yang dipegangnya. Orang-orang disekelilingnya mulai tampak bingung.
            “Yuki, kau tidak apa-apa,” terdengar suara Shiro menyadarkannya. “Apa kau sakit?”
            “Shiro, aku ingin pulang,” ucap Yuki pelan. “Kumohon, aku ingin pulang.”
            “Kalau begitu kita pulang,” Shiro menggandeng Yuki keluar dari pameran. Haruyuki-san memintakan izin ke panitia. Sedangkan Ushio-san sibuk meminta maaf kepada pengunjung yang mengelilingi Yuki tadi. Para pegunjung tampak berlalu sambil berbisik-bisik, mereka sebenarnya merasa kecewa dan bingug.
           
            “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Shiro saat mereka sudah sampai di Aprtemen. “Aku memang sudah menduga jika ada yang kau sembunyikan, sekarang kau harus menceritakanya padaku. Kau yang bilang kalau kau bukan orang lain bagiku.”
            “Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikanya,” ucap Yuki lirih. “Shiro adalah teman bagiku. Kau juga sahabat, kakak, dan orang yang paling penting.”
            “Kalau begitu katakana semuanya padaku!”
            “Kau tau Erika von Einsbern?”
            “Gadis yang selalu bersamamu saat melukis di galeri?”
            “Ya, dia selalu bersamaku. Bahkan saat semuanya mulai menjauh, dia tetap bersamaku.” Yuki mulai bercerita.
           
            Erika von Einsbern adalah gadis berdarah Amerika-Jerman. Dia adalah sahabat Yuki sejak mereka mulai melukis dikelas yang sama di galeri. Gadis itu memiliki kemampuan yang sangat baik dalam melukis. Dia selalu berlatih dan berlatih setiap harinya. Berbeda dengan Yuki yang memang sudah memiliki bakat dalam melukis.
            Bakat yang dimiliki Yuki membuat teman-temannnya merasa tidak nyaman. Sekeras apapun mereka berlatih, mereka selalu kalah telak dari Yuki.Tidak ada yang bisa menyeimbanginya, bahkan Erika sekalipun. Apalagi kebiasaan Yuki yang selalu sibuk dengan dunia jika sedang melukis, membuat mereka merasa benar-benar kalah.Akhirnya mereka lebih memilih menghindari Yuki. Hanya Erika yang tetap bersama Yuki.
            Kejadian ini terjadi satu tahun yang lalu, saat itu tuan Akiyama masih hidup. Hari itu diadakan perlombaan memeperingati perang dunia ke II. Dan saat itu jugalah kejadian itu terjadi. Hari itu Yuki dan Erika tentu saja mengikuti perlombaan tersebut. Dan semuanya pasti tau kalau pemenangnya adalah Yuki. Erika meraih juara kedua. Bagaimanapun, jika kau bukan yang pertama maka itu tetaplah kekalahan. Erika yang selama ini selalu memendam semuanya, telah mencapai batasnya. Selama ini dia sudah cukup merasa puas dengan apa yang diraihnya. Namun saat ini, dia benar-benar tidak bisa hanya cukup merasa puas. Setelah semua latihan dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Jika dia merasa puas, sama saja seperti merelakan kerja kerasnya tanpa membuahkan hasil. Dia sudah melepaskan segalanya untuk ini. Dia telah membuat banyak masalah hanya untuk mewujudkan keinginannya. Tapi, semuanya terasa sia-sia, semuanya gagal saat ini juga.
            Saat itu yang dia inginkan hanyalah sendiri. Setelah penerimaan penghargaan, dia segera keluar dari tempat perlombaan. Dan lucunya, orang yang benar-benar tidak ingin dia temui adalah orang pertama yang berhasil menemukannya.
            “Rika, kau kenapa?” tanya Yuki sambil mendekat.
            “Kenapa kau bilang. Kau fikir aku ini kenapa!” teriak Erika, membuat Yuki terkejut. “Kau selalu saja mendapatkan segalanya tanpa perlu bersusah payah sepertiku. Semunya memujimu, mereka mengelu-elukanmu.”
            “Aku tidak mengerti maksudmu,” ucap Yuki bingung. Selama ini Erika selalu memujinya setiap dia memenangkan lomba. Erika selalu ikut senang dengan keberhasilannya.
            “Yah, orang sepertimu tidak mungkin mengerti. Sekarang semuanya sudah berakhir. Aku menyerah, aku tidak akan pernah lagi berusaha mengejarmu. Aku berhenti!”
            “Berhenti? Apa maksudmu?”
            “Aku berhenti, aku tidak akan melukis lagi. Sekarang kau bebas berlari, kau tak perlu menungguku. Aku tidak akan bersamamu lagi.” Erika berlalu meninggalkan Yuki yang memematung. Sejak saat itulah dia tidak pernah bertemu dengan Erika. Erika pindah ke Jerman, dan dia benar-benar berhenti melukis. Dan untuk yang pertama kalinya, dia benar-benar merasakan rasanya kehilangan. Dan setelah semuanya, ayahnya juga meninggalkannya.
           
            “Kurasa ini semua adalah balasan bagiku,” ujar Yuki setelah dia selesai bercerita. Shiro terdiam beberapa saat, menatap gadis dihadapannya. Ada perasaan sedih, bingung, dan menyesal dimata sahabatnya itu.
            “Jadi, kamu merasa bersalah karena sifat tidak pekamu?”
            “Ya, bukankah ini buruk? Aku bahkan tidak menyadari sedikitpun perasaan Erika.”
            “Memang, dari dulu sikap tidak pekamu itu memang menyebalkan. Tapi semua itu bukan sepenuhnya salahmu. Dia hanya merasa kecewa dengan dirinya, dan akhirnya menyerah dengan segalanya.”
            “Tapi tetap saja, karena ini dia berhenti melukis. Aku masih ingin menjadi sahabatnya, aku masih ingin melukis dengannya.”
            “Benar-benar egois,” komentar Sihiro. “Tapi apa yang terjadi di pameran tadi?”
            “Alice, adiknya Erika datang. Dia yang paling sedih saat mengetahui Erika berhenti melukis. Dia tidak bisa menerima itu semua.”
            “Kenapa perempuan itu begitu rumit sih?” ucap Shiro lebih seperti pertanyaan kepada dirinya sendiri.
            “Tidak tau. Jadi kau mau membantuku?”
            “Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, tapi baiklah.”
            “Aku ingin kau melakukan sesuatu.”

            Sekarang dia dan Yuki sedang berda di Jerman. Dia memang berniat menolong gadis itu, tapi dia tidak menduga jika Yuki akan meyeretnya ke Jerman. Mereka sampai disebuah rumah yang lebih mirip kastil. Shiro yakin itu pasti rumah Erika.
            “Baik, tugasmu adalah membantuku. Apapun yang terjadi, mengerti?”
            “Ok,” jawab Shiro. “Tapi kenapa kau harus mengajakku hanya untuk bertemu dengannya?”
            “Kujelaskan nanti, sekarang ayo!”
            Mereka memasuki halaman rumah tersebut. Sebelum mereka sampai didepan pintu, seorang gadis berambut pirang keluar. Gadis itu tampak terkejut saat melihat kehadiran mereka berdua. Dia terdiam selama beberapa saat, selanjutnya menghela nafas panjang.
            “Masuklah, diluar dingin,” ucap gadis itu sambil membukakan pintu. “Kita bicara didalam,” tambahnya saat melihat Yuki hendak mengatakan sesuatu.
            Mereka akhirnya masuk. Gadis itu membawa mereka ke kamarnya. Disana Shiro melihat sebuah lukisan yang digantung diatas nakas tempat tidur, kemudian diatas rak buku terdapat beberapa foto. Foto gadis itu dengan keluarganya, dengan adiknya, dan juga fotonya dengan Yuki yang sedang melukis bersama.
            “Kau masih menyimpannya ternyata,” ucap Yuki sambil memperhatikan lukisan yang digantung. Lukisan itu adalah pemberiannya, dia yang meukisnya sebagai hadiah ulang tahun ke 17 Erika.
            “Ya, sebagai kenang-kenangan. Apa kau berfikir aku membuangnya?”
            “Kurasa, karena saat itu kau terlihat sangat kesal.”
            “Umur kita sekarang sudah 20 tahun, mana mungkin aku melakukan hal yang akan dilakukan anak SMA saat merasa kesal,” ucapnya sambil terkekeh pelan. “Jadi, kau masih belum menyerah ya. Kali ini aku tidak tau apa yang akan kau lakukan padaku untuk membujukku, tapi jawabanku masih sama. Aku berhenti.”
            “Kau melakukan hal yang dilakukan anak SMA sekarang,” ucap Shiro. “Kau tidak mau melukis, hanya karena merasa kalah dari Yuki.”
            “Oh Shiro, sudah lama tidak bertemu,” ucap Erika menoleh kearah Shiro. “Aku berhenti bukan karena itu, aku tidak merasa kalah darinya. Tapi aku memang benar-benar sudah kalah. Itu membuktikan kalau aku tidak cocok sebagai seniman.”
            “Kau salah,” kali ini Yuki berteriak. “Aku melukis karena aku menyukainya, bukan untuk memenagkan apapun.”
            “Kau berkata seperti itu karena kau tidak pernah merasakan kekalahan, kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya semua usahamu hanya menjadi sia-sia. Aku juga menyuaki saat aku melukis.”
            “Ya, aku memang tidak mengerti bagaimana rasanya. Sekeras apapun aku mencoba memahami perasaanmu aku tidak pernah bisa,” ucap Yuki lirih.
            “Kalau kau memang menyukai melukis, melukislah,” tambah Shiro. “Melukislah lagi dengan Yuki sekarang.”
            “Untuk apa aku harus melakukannya?”
            “Apa tujuanmu saat kau melukis?”
            “Tujuanku, karena aku menyukai saat aku melukis.”
            “Benarkah, lalu kenapa kau berhenti melukis? Jika kau memang menyukai melukis, kau tidak akan berhenti hanya karena kau merasa kalah.”
            "Sudah kubilang aku berhenti bukan karena itu. Lagipula aku juga harus mengurus perusahaan keluargaku. Aku tidak akan bisa jika hanya bermain-main sepanjang waktu."
            "Jadi kau berfikir melukis hanya untuk bermain-main?" tanua Yuki.
            "Jika seorang seniman tidak bisa menghasilkan karya yang diakui oleh orang lain, untuk apa tetap menjadi seniman. Sama saja seperti bermain-main kan."
            "Kau ini, aku tidak mengerti dengan jalan fikiranmu. Sekarang kau harus melukis dengan Yuki. Saat ini juga."
            "Aku juga tidak mengerti dengan jalan fikiran kalian, kenapa kau begitu memaksa menyuruhku melukis lagi dengan Yuki. Baiklah, jika itu bisa membuat kalian puas. Tapi setelah ini, berhenti memaksaku."
            "Tentu," ujar Shiro sungguh-sungguh.
            "Kalau begitu ayo ikut aku, kita tidak bisa melukis disini. Semua peralatan melukisku sudah lama tak terpakai. Kita ke galeri milik temanku."
           
Mereka tiba disebuah galeri yang cukup besar. Mereka langsung masuk lewat pintu belakang. Mereka menuju ke sebuah ruangan yang merupakan salh satu kelas di galeri itu.
"Kita akan melukis disini, bagaimana?" tanya Erika kepada Shiro dan Yuki.
"Baiklah, silahkan kalian berdua mulai melukis," ucap Shro sambil mendudukan dirinya ditepi jendela. "Aku hanya akan memperhatikan kalian dari sini."
            Erika dan Yuki kemudian mulai melukis. Mereka melukis bersama seperti dulu. Erika memperhatikan Yuki yang sedang melukis. Masih sama seperti dulu, saat mereka melukis bersama. Yuki akan masuk kedalam dunianya sendiri. Dia terdiam, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menghantamnya. Dia ingat sekarang, alasannya tetap melikis bersama Yuki. Alasannya tetap disamping Yuki, saat yang lainnya memilih menghindar. Dia ingat sekarang, kenapa dia bisa melukis bersama Yuki.
           
            Saat itu seorang gadis kecil duduk sendirian dikursi taman. Kakinya bergerak-gerak memainkan salju yang dipijaknya. Gadis kecil itu tidak memperdulikan rasa dingin yang menyergapnya. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Seorang gadis kecil berusia sama dengnnya, sedang sibuk melakukan sesuatu. Gadis itu menuangkan cat air berwarna merah diatas salju berbetuk gundukan. Karena penasaran, dia menghampiri gadis kecil itu. Gadis itu tampak fokus dengan apa yang dia lakukan. Tangannya terus bergerak, menuangkan beberapa warna keatas salju. Setelah selesai menuangkan beberapa warna, gadis itu mulai membentuk sesuatu dari salju-salju yang telah berwarna itu. Dia terus melakukannya hingga akhrinya terbentuklah gambar bunga-bunga musim semi diatas salju tersebut. Dia menatap kagum pada hasil karya garis itu.
            "Cantik," kata - kata itu keluar dengan sendirinya dari bibirnya.
            "Terimakasih," gadis kecil itu tersenyum. "Kau mau mencobanya? Aku menyebut ini lukisan salju. Karena lukisannya dibuat diatas salju."
            "Aku tidak bisa melukis," ucapnya kepada gadis itu. Sebenarnya dia juga ingin mencobanya. "Bagaimana kalau lain kali saja? Saat aku sudah bisa melukis."
            "Kau mau belajar melukis?"
            "Ya, aku akan belajar melukis. Jadi kita bisa membuat lukisan salju bersama."
            "Namaku Yuki."
            "Aku Erika. Yuki itu berarti salju kan?"
            "Iya, Yuki artinya salju," jawab gadis itu semangat. "Jika kau ingin belajar melukis, kau bisa melukis bersamaku."
            "Baiklah, aku akan melukis bersamamu. Setelah itu kita akan membuat banyak lukisan salju." Begitulah janjinya kepada gadis kecil itu.
            Erika terdiam selama beberapa saat. Ingatan tadi benar-benar seperti guyuran air dingin yang membangunkannya. Bagaimana dia bisa melupakan hal itu. Orang yang membuatnya melukis adalah Yuki. Tujuannya melukis adalah agar dia bisa selalu melukis bersama Yuki. Bukan untuk menjadi seseorang yang diakui dan dikenal. Keinginannya saat itu hanyalah untuk melukis dan bersenang-senang bersama Yuki. Untuk menuangkan perasaannya didalam lukisannya. Dia terlalu serius selama ini. Dia melupakan tujuannya yang sebenarnya. Dia tidak perlu mengejar Yuki, dia tidak perlu menjadi seniman yang terkenal. Yang dia perlukan adalah tetap melukis bersama Yuki. Meskipun dia tidak menjadi seorang seniman, jika dia tetap melukis dia akan tetap melukis bersama Yuki. Dia sadar sekarang. Tujuannya hanyalah untu selalu melukis bersama Yuki dan medukung gadis itu. Itulah kenapa dia tetap bersamanya disaat yang lain mulai menghindari gadis itu.
            “Yuki, mau melukis salju?” hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari bibirnya sekarang. “Kita bisa melakukannya dihalam belakang, banyak salju yamg menumpuk disana.”
            Yuki merasa terkejut dengan apa yang didengarnya. Dia tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca saking senangnya. “Ayo,” jawabnya penuh semangat.
            Mereka menuju halaman belakang sambil membawa beberapa cat air, selanjutnya mereka mulai sibuk menggambar. Shiro memperhatikan mereka dari belakang, mereka tampak seperti anak berusia 10 tahun yang baru saja mendapatkan mainan baru. Shiro tersenyum melihat tingkah mereka. Syukurlah, dia sangat senang.
            “Shiro, kemari!” Erika memanggilnya. “Kau juga harus mencoba melukis salju.”
            “Baiklah, tapi jangan menangis jika gambarku lebih bagus,” ujar Sgiro jahil.
            “Kau tidak akan bisa mengalahkan kami.”
            “Tidak ada yang tau kan? Mungkin saja saat ini aku bisa melukis seperti Yuki.”
            “Jangan bermimpi.”
            Mereka bertiga terus melukis sambil bercanda. Sekarang Erika berjanji kepada dirinya sendiri. Dia akan tetap mendukung Yuki, dia akan melukis kembali.
            Dan satu hal lagi. Yuki diterima di Mrukawa Shouten. Shiro juga diangkat menjadi editor tetap disana. Dan Erika, dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan janjinya. Dia melamar dibidang animasi dan diterima. Dan disaat waktu luang dari pekerjaan mereka, mereka berdua akan pergi melukis bersama.



_SELESAI_



                                                                   ©Amalia Safitri (Yogyakarta)

0 comments:

Post a Comment