Pagi yang cerah di Kyoto, semua
orang menjalankan aktivitas mereka dengan penuh semangat, kecuali seseorang.
Disalah satu kamar apartemen, seorang pemuda
masih terbuai oleh mimpinya. Sebelum handphone dan alarmnya berbunyi bersamaan.
Remaja itu mematikan alaremnya kemudian mengambil handponenya di nakas.
“Halo,”
ujarnya pelan sambil menguap.
“Shiro,
selamat pagi” terdengar suara lembut seorang wanita.
“Ibu,
selamat pagi,” jawabnya masih dengan setengah kesadaran.
“Ibu
hanya mau mengingatkanmu, hari ini Yuki akan tiba pukul 4 sore. Jangan lupa
untuk menjempunya.”
“Apakah
dia harus tiggal bersamaku? Dia itu perempuan,” kali ini Shiro sudah
benar-benar bangun. Dari nada suaranya, tampak dia masih belum bisa menerima
keputusan ibunya.
“Apartemenmu
kan memiliki dua kamar. Memangnya kenapa kalau dia perempuan, dia anak sahabat
ayahmu. Dia juga temanmu saat kita masih di Amerika,” ujar ibunya mencoba
meyakinkan.
“Tapi
saat itu usia kami masih 8 tahun, sekarang kami sudah berusia 20 tahun.
Memangnya ada apa dia tiba-tiba kembali ke Jepang?”
“Bukankah
sudah kuberitau sebelumnya?”
“Tidak,
ibu hanya bilang dia kembali dari Amerika. Dan ibu menyuruhku tinggal
bersamanya.”
“Oh,
kurasa aku lupa memberi tahumu. Ayahnya Yuki meninggal 2 minggu yang lalu.
Ayahnya menyerahkan hak asuhnya dan mempercayakan perusahaannya kepada ayahmu.”
“Jangan
bercanda bu, berita sebesar ini kau baru saja memberitahukannya kepadaku.
Kurasa banyak hal yang kulewatkan.”
“Tentu
saja, kau jarang menelpon ke rumah. Kau juga sudah tidak pulang selama 3 bulan.
Padahal kau bisa naik kereta ke Nagasaki, dan kurasa itu tidak akan
menghabiskan banyak waktumu. Sudahlah, ibu harus berangkat ke bandara sekarang.
Jangan lupa jemput Yuki. Kau yang
bertanggung jawab astasnya sekarang.” Ibunya
langsung menutup sambungan telponnya.
Shiro
meletakkan handphonennya, pandangannya menerawang keluar jendela. Sudah lama
dia tidak bertemu dengan Yuki. Eantah seperti apa dia sekarang. Yang dia tau
Yuki menjadi seorang pelukis terkenal disana, itupun dia mengetahuinya saat
seorang temannya menunjukan majalah seni miliknya kepadanya. Gadis itu memang
memiliki bakat melukis sejak kecil. Dia masih ingat saat Yuki melukis bunga
lili, bunga itu benar-benar terlihat hidup. Dan dia rasa ibunya benar, dia
sudah banyak melawatkan hal-hal penting. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya
sebagai editor manga di perusahaan penerbita Marukawa, dan dia tidak menyangka
jika separah itu. Mungkin lebih baik jika dia mengambil cuti dari pekerjaan
sampingannya untuk dua hari kedepan. Lagipula dia sudah memeriksa naskah Usami
sensei. Jadi dia hanya perlu menunggu manganya selesai. Dia benar-benar tidak
habis fikir, dia bahkan tidak tahu tuan Akiyama meninggal 2 minggu yag lalu.
Pantas saja 2 minggu yang lalu ibunya tidak pernah menelfnnya atau mengirimanya
pesan, padahal biasanya ibunya selalu saja mengirim pesan meskipun dia tidak
membalasnya.
Dan
disinilah dia sekarang, di stasiun Kyoto.Menunggu seseorang yang sudah 12 tahun
tidak pernah ia temui. Entah dia bisa mengenali Yuki atau tidak. Didalam
ingatannya dia hanya mengingat gadis kecil dengan rambut dan mata hazel. Dan
senyum yang selalu terukir diwajahnya. Ya, dia pasti bisa mengenali Yuki.
“Shiro-kun,”
seorang gadis menepuk pundaknya pelan. “Kau sudah menunggu lama?”
“Tidak,”
jawabnya setelah terdiam beberapa saat. Gadis dihadapannya memang memiliki
rambut dan mata hazel. Namun, senyuman diwajahnya tidak seperti dulu. Rasanya
seperti ada yang berbeda, seperti ada yang disembunyikan atau ditutupi. Ah,
tapi mungkin itu karena dia masih berduka. Itulah yang ada difikirannya.
“Kau
akan bersekolah di universitas yang sama denganku, kau mengambi jurusan apa?” Shiro
berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka. Meskipun Yuki pastinya
sudah tau jika dia akan bersekolah ditempat yang sama dengan Shiro.
“Ya,
bibi sudah memberitahukannya, tentu saja seni.” Ya tentu saja seni. Pertanyaan
bodoh apa itu. Dia juga kan sudah tahu kalau yuki itu pelukis, seorang seniman.
“Aku
turut berduka atas meninggalnya ayahmu.”
“Terimakasih,
tidakkah kau terlalu formal,” Yuki terkekeh pelan.
“Yah,
kurasa karena kita sudah lama tidak bertemu.” Alasan macam apa itu.
“Biasa
saja, bagiku meskipun sudah lama Shiro tetaplah Shiro. Kau tetap seperti dulu,
tidak berubah,”
“Kuanggap
itu sebagai pujian,” ujar Shiro, meskipun dia tidak begitu paham dengan maksud
Yuki.
“Kau
selalu berfikir positif ya,” ucap Yuki diikuti tawa mereka.
“Yuki,
hari ini pastikan kau benar-benar sudah bisa mengingat jalan pulang. Besok aku
sudah kembali bekerja, jadi mulai besok kau akan pulang sendiri.”
“Tenang
saja, aku bukan anak kecil. Jika aku tersesat, aku masih bisa bertanya.”
“Kalau
begitu aku duluan.”
“Jangan
tidur dikelas dan jangan mengedit manga dikelas.”
“Aku
memang punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi aku tidak akan
mengerjakannya dikelas,” ujar Shiro sambil berlalu.
Hari
ini seharusnya dia masih libur. Namun tiga asisten Usami sensei sedang sakit,
jadi sebagai editornya dia harus membantu pengerjaan manganya. Karena besok
mereka harus menyerahkannya ke percetakan. Jadi hari ini dia terpaksa
membiarkan Yuki pulang sendiri. Padahal gadis itu masih belum menghafal jalan.
Dan sepertinya dia juga akan pulang malam atau bahkan menginap di rumah Usami
sensei. Lebih baik dia memberitahukan ke Yuki, agar gadis itu tidak perlu
memasakan makan malam untuknya. Yah, sebaiknya dia menemui Yuki dikelasnya
sekarang.
“Hai,
kau tau murid pindahan dari Amerika itu?” terdengar bisik-bisik dari
gadis-gadis yang berkumpul di lorong dekat kelas seni.
“Akiyama
Yuki, gadis itu benar-benar menyebalkan. Hanya karena dia pelukis terkenal,
bukan berarti dia bisa melukis sebebasnya dikelas.”
“Ya,
dia barusaja datang dan langsung dijadikan wakil untuk pameran universitas.”
“Lukisannya
memang bagus, tapi sikapnya seperti tidak peduli kepada orang lain. Dia seperti
tidak menganggap orang-orang disekitarnya itu ada.”
“Tadi
aku menyapanya saat istirahat, dan dia bahkan tidak mengingatku padahal aku
selalu duduk disebelahnya. Benar-benar parah.”
Ya
benar-benar parah. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Yuki. Yuki yang dia tahu
adalah anak yang ramah dan berteman dengan siapa saja. Dan sekarang para gadis
itu membicarakannya seakan dia adalah gadis penyendiri yang tidak peduli kepada
orang lain.
“Kau
Takahasi Shiro kan?”salah seorang gadis menyadari keberadaanya. “Apa kau
mencari Akiyama-san?”
“Ya,
apa kau tahu dimana dia?”
“Dia
masih diruang seni, kurasa dia masih sibuk dengan lukisannya.”
“Terimakasih,” Shiro berlalu menuju
ruang seni.
Dan
tepat seperti dugaannya, disana Yuki sedang sibuk melukis sendirian. Gadis itu
seperti berada di dunianya sendiri, tidak memperdulikan sekitarnya. Matanya dan
tangannya fokus pada kanvas dihadapannya. Bahkan dia tidak memperdulikan
butiran salju yang masuk melalui jendela. Shiro bahkan sangat yakin jika gadis
itu pasti tidak menyadari kehadirannya. Jika diperhatikan, Yuki yang sedang
melukis masih sama seperti dulu. Tangannya bergerak dengan lincah, mata
hazelnya fokus pada lukisannya. Masih sama, masih seperti Yuki yang dulu. Hanya
saja jika Yuki yang dulu dia perhatikan dari jendela selalu melukis bersama
teman-temannya. Namun gadis yang ada dihadapannya sekarang melukis sendirian.
Dulu saat Shiro masih tinggal di Amerika, dia sering datang ke galeri tempat
Yuki belajar melukis. Dia sering memperhatikan Yuki dan teman-temannya yang
melukis. Dan saat mereka selesai melukis, mereka akan meminta pendapat dari
Shiro. Terkadang mereka menyuruh Shiro menjadi juri dan memilih salah satu
lukisan yang menurutnya paling bagus.
“Shiro,
sejak kapan kau disini?” Yuki tampak terkejut dengan kehadirannya.
“Beberapa
menit yang lalu, kurasa.”
“Bukankah
kau harus kerumah Usami sensei untuk membantunya menyelesaikan manganya?”
“Ya,
aku hanya mau memberitahumu mungkin nanti aku akan pulang larut atau mungkin
menginap dirumah Usami sensei. Jadi kau tidak perlu menyiapkan makan malam
untukku.”
“Kau
membantu menyelesaikan manga kan? Kurasa aku bisa ikut membantu, misalnya
dengan mewarnai betanya,” ucap Yuki antusias.
“Kurasa
bisa, tapi ini adalah pekerjaanku. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang
lain.”
“Apakah
aku ini orang lain bagimu?”
“Bukan
seperti itu,” jawab Shiro serba salah
“Kalu
begitu aku ikut, aku membantu karena keinginanku sendiri. Jadi kau tidak
merepotkan siapapun,” Yuki memasang puppy eyes andalannya
“Kalu
begitu ayo, kita harus segera berangkat kesana,” yah mau bagaimana lagi. Jika
Yuki sudah berniat membantu, tidak ada yang bisa merubah keputusannya. Lagipula
jika yang membantu lebih banyak pasti akan lebih cepat selesai.
“Sudah
berapa lama kau menjadi editor Usami sensei?”
“Kira-kira
sudah hampir satu tahun. Sebenarnya aku hanya asisten dari editor Usami sensei.
Editor sebenarnya adalah Haruyuki-san. Kau akan bertemu dengannya nanti.”
“Begitu,
apa kau berencana menjadi pegawai tetap dan menjadi editor sebenarnya?”
“Masih
belum kufikirkan, tapi saat ini aku menikmatinya.”
“Begitu
ya.”
Ya,
dia benar-benar masih belum memikirkan tetang apa yang akan dia lakukan untuk
kedepannya. Tapi dia mememang menikmati pekerjaanya sebagai editor. Dan sejauh
ini tidak ada hal lain yang dia kerjakan selain menjadi asisten editor. Mungkin
dia akan tetap menjadi editor nantinya.
“Kita
sudah sampai.” Mereka tiba disebuah rumah besar bergaya eropa. Dari luar,
suasana rumah itu terlihat sangat tenang. Tapi seperti kata pepatah jangan
melihat sesuatu hanya dari luarnya. Didalam rumah itu benar-benar sedang
terjadi kerusuhan.
“Permisi,”
ucap Shiro dan Yuki bersamaan.
“Shiro,
cepat kemari. Selesaikan bagian ini!” terdengar suara Haruyuki-san.
“Sensei
cepat selesaikan gambarmu,” kali ini suara asisten Usami sensei. “Siapa yang
bertugas mewarnai betanya?” lanjutnya.
“Biar
aku yang melakukannya,” Yuki langsung menwarkan dirinya.
“Oke,
cepat kerjakan. Warnai yang sudah ada tandanya!”
“Baik,”
Yuki langsung mulai mengerjakan dengan serius. Dan dia dapat mewarnai 50
halaman hanya dalam waktu dua setengah jam.
Dan
setelah jam-jam penuh perjuangan akhirnya manga Usami sensei selesai tepat
pukul dua pagi. Lebih cepat dari perkiraan, dan itu berkat bantuan Yuki.
“Akhirnya
selesai, kalian benar-benar menyiksaku,” ujar Usami sensei sambil menidurkan
dirinya di sofa.
“Salahmu
sendiri mengerjakannya mendekati deadline,” balas asistennya, Ushio-san.
“Yang
penting sekarang kita sudah berhasil menyelesaikannya, aku akan membawanya ke
percetakan nanti,” Haruyuki-san mencoba menengahi. “Ngomong-ngomong, nona ini
siapa?”
“Kalian
dengan mudahnya menyuruhnya mewarnai beta, dan kalian baru menyadarinya sekarang,”
ujar Shiro menghela nafas panjang. “Dia temanku, Yuki.”
“Perkenalkan,
saya Akiyama Yuki,” Yuki memberi salam kepada mereka.
“Kau
mengerjakan betanya dengan rapi, apa kau sering mewarnai beta?” tanya
Haruyuki-san.
“Ini
pertama kalinya saya mengerjakan beta.”
“Kalau
begitu kau berbagat Yuki-chan,” puji Ushio-san
“Dia
seorang mahasiswa jurusan seni” tambah Shiro
“Sering-sering
ya kau membantu kami,” ucap Usami sensei tanpa dosa
“Kau
benar-benar tidak tahu terimakasih ya, sensei,” sindir Ushio-san. “Kau
seharusnya merasa malu, sampai-sampai temannya Shiro-kun ikut membantumu.Maaf
sudah merepotkanmu, Yuki-chan. Dan terimakasih bantuannya.”
“Tidak
apa-apa, aku senang bisa membantu,” ujar Yuki sambil tersenyum.
Selanjutnya
mereka menghabiskan waktu pagi itu dengan penuh tawa.
“Yuki,
lihat ini!” Shiro menunjukan fax yang baru saja dia dapat dari Ushio-san. “Ini
dari perusahaan, mereka membuka lowongan bagian desain. Kami fikir ini cocok
untukmu, Kau merupakan pelukis yang berprestasi, jadi mereka pasti menerimamu.”
“Kurasa
aku bisa mencobanya, tapi bagaimana denganmu?”
“Perusahaan
akan merekrutku menjadi pegawai tetap saat aku lulus nanti.”
“Selamat,
sudah kuduga Shiro pasti bisa. Kalau begitu aku akan mencobanya, jika aku
diterima kita berada di perusahaan yang sama kan?”
“Ya,
kalu begitu ini formulirnya. Kau bisa menyerahkannya besok.” Sebenarnya Shiro
sudah sangat yakin jika Yuki pasti diterima.
Selesai
kuliah mereka menuju ke Marukawa shouten, perusahaan tempat Shiro bekerja untuk
mengumpulkan formulir pendaftaran.
“Yuki-chan,”
Ushio-san menghampiri mereka dengan penuh semangat. “Kau ikut mendaftar juga
ya.”
“Ya,
sebentar lagi kelulusan jadi aku harus mendapat peerjaan agar tidak merepotkan
Shiro.”
“Jangan
berkata seakan-akan perusahaanmu itu tidak ada artinya. Bagaimanapun juga kau
adalah pewaris perusahaan ayahmu.”
“Ya,
ya, ya, tapi sekarang ayahmu yang mengurusnya. Kalau begitu aku akan
mengumpulkan formulirnya.”
“Ok,
setelah itukau bisa ke lantai 5. Disana adalah markas kami para editor,” tawar
Ushio-san atau dari nada bicaranya lebih seperti memaksa.
Setelah
mengumpulkan formulir Yuki menuju lantai 5. Sebenarnya dia ingin langsung
pulang, tapi karena Ushio-san sudah mengajaknya dia tidak bisa menolak.
Lagipula dia bisa mengetahui tempat Shiro dan yang lainnya bekerja.
“Yuki-chan,”
sapa Haruyuki-san saat dia keluar dari lift. “Kau sudah menyerahkan formulirnya
kan? Berarti selanjutnya kau akan mengikuti tes tertulis.”
“Ya,
tesnya akan diadakan minggu depan.”
“Kau
pasti bisa, aku yakin itu.”
“Shiro
juga berkata seperti itu kemarin. Terimakasih, aku akan berusaha.”
“Yap,
semangat. Kami semua mendukungmu.”
Akhirnya
dia pulang bersamaan dengan Shiro, padahal awalnya dia berniat berkunjung
sebentar. Tapi disana dia malah terlalu asik mengobrol dan membantu para
editor. Lumayanlah, dia mendapat tambahan pengetahuan.
“Kau
jadi pulang malam karena mereka, maaf ya.”
“Jika
aku diterima bekerja di Marukawa, aku pasti akan sering pulang malam.”
“Ya,
kau benar. Besok diadakan pameran seni kan? Kudengar kau akan menjadi pengisi
acara disana besok.”
“Ya,
aku akan melukis didepan para pengujung bersama beberapa peukis lainnya.
Selanjutnya lukisan kami akan dilelang oleh para pengunjung.”
“Begitu
ya, besok akan kuusahakan utuk datang ke pameran.”
Hari
ini hari dilaksanakannya pameran seni, dan hari ini entah kebetulan atau bukan
Haryuki-san, Ushio-shan, dan Usami sensei -sebenarnya dia harus mengerjakan
manganya, tapi deadlinenya masih lama- tidak memiliki pekerjaan. Termasuk
dirinya juga. Jadi hari ini mereka semua ikut menghadiri pameran seni, beberapa
editor yang pekerjaannya sudah selesai juga ikut. Pameran diadakan di aula
utama yang kira-kira bisa menampung 10.000 orang. Sekarang sudah pukul 11
siang, jumlah pengunjung juga sudah cukup banyak. Ternyata masih banyak peminat
seni saat ini.
“Ayo,
aku ingin melihat Yuki-chan melukis,” ajak Ushio-san penuh semangat
“Shio-chan,
kau benar-benar bersemangat ya. Kau sudah seperti fans-nya Yuki-chan,” ujar
Usami sensei.
Meskipun
ini hanya pameran universitas, tapi lukisan yang dipamerkan tidak bisa dibilang
biasa. Bagaimanapun, lukisan itu adalah lukisan terbaik dari para siswa. Disekeliling
aula digantung lukisan-lukisan para siswa, ruang aula juga dibentuk mirip
labirin dan disetiap dinding labirin yang terbuat dari papan digantung lukisan.
Dan ditengah aula beberapa siswa sedang mempertunjukan keahlia melukis mereka.
Yuki adalah salah satu dari mereka, dia berada dibarisan kedua. Meskipun
begitu, dia terlihat paling mencolok dari yang lainnya. Ada banyak pengunjung
yang berkumpul disekitarnya. Jika dilihat, cara melukisnya memang berbeda dari
yang lain. Tangannya seperti menari-nari diatas kanvas, tubuhnya yang bergerak
untuk mengambil cat ai juga bergerak dengan ringan.
“Wah,
banyak sekali yang mengelilingi Yuki-chan,” ucap Haruyuki-san kagum.
“Benar-benar seperti yang diharapkan dari titisan Picasso.”
“Titisan
Picasso?” tanya Shiro heran.
“Kau
tidak tahu? Kau ini hidup dimana sih?” ucap Haruyuki-san. “Itu sebutan yang
diberikan pada Yuki dari penggemarnya, dia itu sangat terkenal.”
“Teryata
dia benar-benar hebat ya,” guman Shiro. Dia tau kalau Yuki sering menjadi
pemberitaan di majalah, tapi dia tidak tahu jika Yuki sehebat itu.
Pengunjung
yang mengelilinginya juga semakin banyak. Namun, gadis itu seakan tidak
memperdulikan orang-orang disekitarnya.
“Kau
benar-benar gadis egois, Akiyama Yuki,” seorang gadis dengan rambut blonde
berbisik tepat ditelinga Yuki. “Tidak ingatkah dengan yang sudah kalu lakukan.”
Seketika itu gerakan Yuki berhenti. Gadis yang berbisik ditelinganya berlalu
pergi. Yuki diam mematung, dan dia menjatuhkan kuas yang dipegangnya.
Orang-orang disekelilingnya mulai tampak bingung.
“Yuki,
kau tidak apa-apa,” terdengar suara Shiro menyadarkannya. “Apa kau sakit?”
“Shiro,
aku ingin pulang,” ucap Yuki pelan. “Kumohon, aku ingin pulang.”
“Kalau
begitu kita pulang,” Shiro menggandeng Yuki keluar dari pameran. Haruyuki-san
memintakan izin ke panitia. Sedangkan Ushio-san sibuk meminta maaf kepada
pengunjung yang mengelilingi Yuki tadi. Para pegunjung tampak berlalu sambil
berbisik-bisik, mereka sebenarnya merasa kecewa dan bingug.
“Sebenarnya
apa yang terjadi?” tanya Shiro saat mereka sudah sampai di Aprtemen. “Aku memang
sudah menduga jika ada yang kau sembunyikan, sekarang kau harus menceritakanya
padaku. Kau yang bilang kalau kau bukan orang lain bagiku.”
“Maaf,
aku tidak bermaksud menyembunyikanya,” ucap Yuki lirih. “Shiro adalah teman
bagiku. Kau juga sahabat, kakak, dan orang yang paling penting.”
“Kalau
begitu katakana semuanya padaku!”
“Kau
tau Erika von Einsbern?”
“Gadis
yang selalu bersamamu saat melukis di galeri?”
“Ya,
dia selalu bersamaku. Bahkan saat semuanya mulai menjauh, dia tetap bersamaku.”
Yuki mulai bercerita.
Erika
von Einsbern adalah gadis berdarah Amerika-Jerman. Dia adalah sahabat Yuki
sejak mereka mulai melukis dikelas yang sama di galeri. Gadis itu memiliki
kemampuan yang sangat baik dalam melukis. Dia selalu berlatih dan berlatih setiap
harinya. Berbeda dengan Yuki yang memang sudah memiliki bakat dalam melukis.
Bakat
yang dimiliki Yuki membuat teman-temannnya merasa tidak nyaman. Sekeras apapun
mereka berlatih, mereka selalu kalah telak dari Yuki.Tidak ada yang bisa
menyeimbanginya, bahkan Erika sekalipun. Apalagi kebiasaan Yuki yang selalu
sibuk dengan dunia jika sedang melukis, membuat mereka merasa benar-benar
kalah.Akhirnya mereka lebih memilih menghindari Yuki. Hanya Erika yang tetap
bersama Yuki.
Kejadian
ini terjadi satu tahun yang lalu, saat itu tuan Akiyama masih hidup. Hari itu
diadakan perlombaan memeperingati perang dunia ke II. Dan saat itu jugalah
kejadian itu terjadi. Hari itu Yuki dan Erika tentu saja mengikuti perlombaan
tersebut. Dan semuanya pasti tau kalau pemenangnya adalah Yuki. Erika meraih
juara kedua. Bagaimanapun, jika kau bukan yang pertama maka itu tetaplah
kekalahan. Erika yang selama ini selalu memendam semuanya, telah mencapai
batasnya. Selama ini dia sudah cukup merasa puas dengan apa yang diraihnya.
Namun saat ini, dia benar-benar tidak bisa hanya cukup merasa puas. Setelah
semua latihan dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Jika dia merasa puas,
sama saja seperti merelakan kerja kerasnya tanpa membuahkan hasil. Dia sudah
melepaskan segalanya untuk ini. Dia telah membuat banyak masalah hanya untuk
mewujudkan keinginannya. Tapi, semuanya terasa sia-sia, semuanya gagal saat ini
juga.
Saat
itu yang dia inginkan hanyalah sendiri. Setelah penerimaan penghargaan, dia
segera keluar dari tempat perlombaan. Dan lucunya, orang yang benar-benar tidak
ingin dia temui adalah orang pertama yang berhasil menemukannya.
“Rika,
kau kenapa?” tanya Yuki sambil mendekat.
“Kenapa
kau bilang. Kau fikir aku ini kenapa!” teriak Erika, membuat Yuki terkejut. “Kau
selalu saja mendapatkan segalanya tanpa perlu bersusah payah sepertiku. Semunya
memujimu, mereka mengelu-elukanmu.”
“Aku
tidak mengerti maksudmu,” ucap Yuki bingung. Selama ini Erika selalu memujinya
setiap dia memenangkan lomba. Erika selalu ikut senang dengan keberhasilannya.
“Yah,
orang sepertimu tidak mungkin mengerti. Sekarang semuanya sudah berakhir. Aku
menyerah, aku tidak akan pernah lagi berusaha mengejarmu. Aku berhenti!”
“Berhenti?
Apa maksudmu?”
“Aku
berhenti, aku tidak akan melukis lagi. Sekarang kau bebas berlari, kau tak
perlu menungguku. Aku tidak akan bersamamu lagi.” Erika berlalu meninggalkan
Yuki yang memematung. Sejak saat itulah dia tidak pernah bertemu dengan Erika.
Erika pindah ke Jerman, dan dia benar-benar berhenti melukis. Dan untuk yang
pertama kalinya, dia benar-benar merasakan rasanya kehilangan. Dan setelah
semuanya, ayahnya juga meninggalkannya.
“Kurasa
ini semua adalah balasan bagiku,” ujar Yuki setelah dia selesai bercerita.
Shiro terdiam beberapa saat, menatap gadis dihadapannya. Ada perasaan sedih,
bingung, dan menyesal dimata sahabatnya itu.
“Jadi,
kamu merasa bersalah karena sifat tidak pekamu?”
“Ya,
bukankah ini buruk? Aku bahkan tidak menyadari sedikitpun perasaan Erika.”
“Memang,
dari dulu sikap tidak pekamu itu memang menyebalkan. Tapi semua itu bukan
sepenuhnya salahmu. Dia hanya merasa kecewa dengan dirinya, dan akhirnya
menyerah dengan segalanya.”
“Tapi
tetap saja, karena ini dia berhenti melukis. Aku masih ingin menjadi
sahabatnya, aku masih ingin melukis dengannya.”
“Benar-benar
egois,” komentar Sihiro. “Tapi apa yang terjadi di pameran tadi?”
“Alice,
adiknya Erika datang. Dia yang paling sedih saat mengetahui Erika berhenti
melukis. Dia tidak bisa menerima itu semua.”
“Kenapa
perempuan itu begitu rumit sih?” ucap Shiro lebih seperti pertanyaan kepada
dirinya sendiri.
“Tidak
tau. Jadi kau mau membantuku?”
“Aku
tidak tau apa yang harus kulakukan, tapi baiklah.”
“Aku
ingin kau melakukan sesuatu.”
Sekarang
dia dan Yuki sedang berda di Jerman. Dia memang berniat menolong gadis itu,
tapi dia tidak menduga jika Yuki akan meyeretnya ke Jerman. Mereka sampai
disebuah rumah yang lebih mirip kastil. Shiro yakin itu pasti rumah Erika.
“Baik,
tugasmu adalah membantuku. Apapun yang terjadi, mengerti?”
“Ok,”
jawab Shiro. “Tapi kenapa kau harus mengajakku hanya untuk bertemu dengannya?”
“Kujelaskan
nanti, sekarang ayo!”
Mereka
memasuki halaman rumah tersebut. Sebelum mereka sampai didepan pintu, seorang
gadis berambut pirang keluar. Gadis itu tampak terkejut saat melihat kehadiran
mereka berdua. Dia terdiam selama beberapa saat, selanjutnya menghela nafas
panjang.
“Masuklah,
diluar dingin,” ucap gadis itu sambil membukakan pintu. “Kita bicara didalam,”
tambahnya saat melihat Yuki hendak mengatakan sesuatu.
Mereka
akhirnya masuk. Gadis itu membawa mereka ke kamarnya. Disana Shiro melihat sebuah
lukisan yang digantung diatas nakas tempat tidur, kemudian diatas rak buku
terdapat beberapa foto. Foto gadis itu dengan keluarganya, dengan adiknya, dan
juga fotonya dengan Yuki yang sedang melukis bersama.
“Kau
masih menyimpannya ternyata,” ucap Yuki sambil memperhatikan lukisan yang
digantung. Lukisan itu adalah pemberiannya, dia yang meukisnya sebagai hadiah
ulang tahun ke 17 Erika.
“Ya,
sebagai kenang-kenangan. Apa kau berfikir aku membuangnya?”
“Kurasa,
karena saat itu kau terlihat sangat kesal.”
“Umur
kita sekarang sudah 20 tahun, mana mungkin aku melakukan hal yang akan
dilakukan anak SMA saat merasa kesal,” ucapnya sambil terkekeh pelan. “Jadi,
kau masih belum menyerah ya. Kali ini aku tidak tau apa yang akan kau lakukan
padaku untuk membujukku, tapi jawabanku masih sama. Aku berhenti.”
“Kau
melakukan hal yang dilakukan anak SMA sekarang,” ucap Shiro. “Kau tidak mau
melukis, hanya karena merasa kalah dari Yuki.”
“Oh
Shiro, sudah lama tidak bertemu,” ucap Erika menoleh kearah Shiro. “Aku
berhenti bukan karena itu, aku tidak merasa kalah darinya. Tapi aku memang
benar-benar sudah kalah. Itu membuktikan kalau aku tidak cocok sebagai
seniman.”
“Kau
salah,” kali ini Yuki berteriak. “Aku melukis karena aku menyukainya, bukan
untuk memenagkan apapun.”
“Kau
berkata seperti itu karena kau tidak pernah merasakan kekalahan, kau tidak akan
mengerti bagaimana rasanya semua usahamu hanya menjadi sia-sia. Aku juga
menyuaki saat aku melukis.”
“Ya,
aku memang tidak mengerti bagaimana rasanya. Sekeras apapun aku mencoba
memahami perasaanmu aku tidak pernah bisa,” ucap Yuki lirih.
“Kalau
kau memang menyukai melukis, melukislah,” tambah Shiro. “Melukislah lagi dengan
Yuki sekarang.”
“Untuk
apa aku harus melakukannya?”
“Apa
tujuanmu saat kau melukis?”
“Tujuanku,
karena aku menyukai saat aku melukis.”
“Benarkah,
lalu kenapa kau berhenti melukis? Jika kau memang menyukai melukis, kau tidak
akan berhenti hanya karena kau merasa kalah.”
"Sudah kubilang aku berhenti bukan karena itu.
Lagipula aku juga harus mengurus perusahaan keluargaku. Aku tidak akan bisa
jika hanya bermain-main sepanjang waktu."
"Jadi kau berfikir melukis
hanya untuk bermain-main?" tanua Yuki.
"Jika seorang seniman tidak
bisa menghasilkan karya yang diakui oleh orang lain, untuk apa tetap menjadi
seniman. Sama saja seperti bermain-main kan."
"Kau ini, aku tidak mengerti
dengan jalan fikiranmu. Sekarang kau harus melukis dengan Yuki. Saat ini juga."
"Aku juga tidak mengerti dengan
jalan fikiran kalian, kenapa kau begitu memaksa menyuruhku melukis lagi dengan
Yuki. Baiklah, jika itu bisa membuat kalian puas. Tapi setelah ini, berhenti
memaksaku."
"Tentu," ujar Shiro
sungguh-sungguh.
"Kalau begitu ayo ikut aku,
kita tidak bisa melukis disini. Semua peralatan melukisku sudah lama tak
terpakai. Kita ke galeri milik temanku."
Mereka
tiba disebuah galeri yang cukup besar. Mereka langsung masuk lewat pintu
belakang. Mereka menuju ke sebuah ruangan yang merupakan salh satu kelas di
galeri itu.
"Kita
akan melukis disini, bagaimana?" tanya Erika kepada Shiro dan Yuki.
"Baiklah,
silahkan kalian berdua mulai melukis," ucap Shro sambil mendudukan dirinya
ditepi jendela. "Aku hanya akan memperhatikan kalian dari sini."
Erika dan Yuki kemudian mulai
melukis. Mereka melukis bersama seperti dulu. Erika memperhatikan Yuki yang
sedang melukis. Masih sama seperti dulu, saat mereka melukis bersama. Yuki akan
masuk kedalam dunianya sendiri. Dia terdiam, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang
menghantamnya. Dia ingat sekarang, alasannya tetap melikis bersama Yuki.
Alasannya tetap disamping Yuki, saat yang lainnya memilih menghindar. Dia ingat
sekarang, kenapa dia bisa melukis bersama Yuki.
Saat itu seorang gadis kecil duduk
sendirian dikursi taman. Kakinya bergerak-gerak memainkan salju yang
dipijaknya. Gadis kecil itu tidak memperdulikan rasa dingin yang menyergapnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Seorang gadis kecil berusia sama dengnnya,
sedang sibuk melakukan sesuatu. Gadis itu menuangkan cat air berwarna merah
diatas salju berbetuk gundukan. Karena penasaran, dia menghampiri gadis kecil
itu. Gadis itu tampak fokus dengan apa yang dia lakukan. Tangannya terus
bergerak, menuangkan beberapa warna keatas salju. Setelah selesai menuangkan
beberapa warna, gadis itu mulai membentuk sesuatu dari salju-salju yang telah
berwarna itu. Dia terus melakukannya hingga akhrinya terbentuklah gambar
bunga-bunga musim semi diatas salju tersebut. Dia menatap kagum pada hasil karya
garis itu.
"Cantik," kata - kata itu
keluar dengan sendirinya dari bibirnya.
"Terimakasih," gadis kecil
itu tersenyum. "Kau mau mencobanya? Aku menyebut ini lukisan salju. Karena
lukisannya dibuat diatas salju."
"Aku tidak bisa melukis,"
ucapnya kepada gadis itu. Sebenarnya dia juga ingin mencobanya. "Bagaimana
kalau lain kali saja? Saat aku sudah bisa melukis."
"Kau mau belajar melukis?"
"Ya, aku akan belajar melukis.
Jadi kita bisa membuat lukisan salju bersama."
"Namaku Yuki."
"Aku Erika. Yuki itu berarti
salju kan?"
"Iya, Yuki artinya salju,"
jawab gadis itu semangat. "Jika kau ingin belajar melukis, kau bisa
melukis bersamaku."
"Baiklah, aku akan melukis
bersamamu. Setelah itu kita akan membuat banyak lukisan salju." Begitulah
janjinya kepada gadis kecil itu.
Erika terdiam selama beberapa saat.
Ingatan tadi benar-benar seperti guyuran air dingin yang membangunkannya.
Bagaimana dia bisa melupakan hal itu. Orang yang membuatnya melukis adalah
Yuki. Tujuannya melukis adalah agar dia bisa selalu melukis bersama Yuki. Bukan
untuk menjadi seseorang yang diakui dan dikenal. Keinginannya saat itu hanyalah
untuk melukis dan bersenang-senang bersama Yuki. Untuk menuangkan perasaannya
didalam lukisannya. Dia terlalu serius selama ini. Dia melupakan tujuannya yang
sebenarnya. Dia tidak perlu mengejar Yuki, dia tidak perlu menjadi seniman yang
terkenal. Yang dia perlukan adalah tetap melukis bersama Yuki. Meskipun dia
tidak menjadi seorang seniman, jika dia tetap melukis dia akan tetap melukis
bersama Yuki. Dia sadar sekarang. Tujuannya hanyalah untu selalu melukis
bersama Yuki dan medukung gadis itu. Itulah kenapa dia tetap bersamanya disaat
yang lain mulai menghindari gadis itu.
“Yuki, mau melukis salju?” hanya
kata-kata itu yang dapat keluar dari bibirnya sekarang. “Kita bisa melakukannya
dihalam belakang, banyak salju yamg menumpuk disana.”
Yuki merasa terkejut dengan apa yang
didengarnya. Dia tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca saking senangnya. “Ayo,”
jawabnya penuh semangat.
Mereka menuju halaman belakang
sambil membawa beberapa cat air, selanjutnya mereka mulai sibuk menggambar.
Shiro memperhatikan mereka dari belakang, mereka tampak seperti anak berusia 10
tahun yang baru saja mendapatkan mainan baru. Shiro tersenyum melihat tingkah
mereka. Syukurlah, dia sangat senang.
“Shiro, kemari!” Erika memanggilnya.
“Kau juga harus mencoba melukis salju.”
“Baiklah, tapi jangan menangis jika
gambarku lebih bagus,” ujar Sgiro jahil.
“Kau tidak akan bisa mengalahkan
kami.”
“Tidak ada yang tau kan? Mungkin
saja saat ini aku bisa melukis seperti Yuki.”
“Jangan bermimpi.”
Mereka bertiga terus melukis sambil
bercanda. Sekarang Erika berjanji kepada dirinya sendiri. Dia akan tetap
mendukung Yuki, dia akan melukis kembali.
Dan satu hal lagi. Yuki diterima di
Mrukawa Shouten. Shiro juga diangkat menjadi editor tetap disana. Dan Erika,
dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan janjinya. Dia melamar dibidang
animasi dan diterima. Dan disaat waktu luang dari pekerjaan mereka, mereka
berdua akan pergi melukis bersama.
_SELESAI_
©Amalia Safitri
(Yogyakarta)



0 comments:
Post a Comment