Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Wednesday, October 26, 2016

Cerpen Bahasa Indonesia - The Hebbers

Di suatu tempat di Dunia ini, tinggallah sebuah keluarga di suatu rumah sederhana jauh dari keramaian manusia modern. mereka tinggal di suatu tempat yang masih sangat alami dengan sungai yang mengalir jernih penuh dengan kehidupan disekitarnya. Pohon pohon tumbuh subur dengan bunga bunga yang bermekaran di setiap musim seminya. Padang rumput nan hijau sebagai lahan makanan bagi makhluk hidup, gunung gunung dan hutan tanda masih berkuasanya alam disana.
            Di keluarga sederhana tersebut terdapat seorang anak. Ia biasa dipanggil Hebbers. Tidak ada sesuatu yang sangat istimewa dari Hebbers. Ia hanya anak biasa yang dibesarkan tanpa alat alat elektronik. Kehidupan keluarga Hebbers tergantung sepenuhnya dari apa yang alam berikan. Akibatnya Hebbers memiliki hubungan yang erat dengan alam disekitarnya. Dia sangat menyukai makhluk hidup lain terutama hewan. Layaknya anak kecil pada umumnya, setiap hari dia bermain di halaman belakang rumahnya dimana setiap hari Hebbers bertemu dengan sahabat sahabat hewannya. Bahkan seringkali muncul hewan hewan buas dari hutan di dekat belakang rumahnya, namun orang tua Hebbers tidak terlalu khawatir karena masih ada sungai yang membatasi antara hutan dan rumah tempat tinggal Hebbers. Hebbers sangat suka bermain dengan hewan hewan dibelakang rumahnya mulai dari serangga serangga kecil seperti belalang, kupu kupu serta melihat burung burung yang sedang minum di pinggir sungai atau saat musim dingin bahkan ada rusa yang berkeliaran dekat rumahnya. Saat saat seperti itu adalah saat yang istimewa karena tidak setiap saat kawanan rusa yang indah tersebut bias berada sangat dekat dengan rumah Hebbers.
            Hebbers menganggap hewan hewan disekitarnya seperti temannya sendiri. Tidak jarang Hebbers mengajak mereka bicara, memberikan sebagian makanannya kepada teman teman hewannya itu. Bahkan Hebbers sering diceramahi bapaknya karena sering melepaskan makan malam keluarga mereka yang sudah susah payah ditangkap oleh bapaknya. Hebbers memperlakukan hewan hewan disekiternya seakan akan mereka memiliki perasaan. Hebbers sangat berharap mereka bisa saling berkomunikasi dan berbicara layaknya manusia. Imajinasi anak kecilnya membuat dia terus berusaha untuk berkomunikasi dengan teman temannya walaupun sangat tidak masuk akal bagi orang lain untuk bisa berbicara atau mengerti bahasa hewan.
Hari demi hari terus dihabiskan Hebbers bersama dengan teman teman belakang rumahnya. Sampai suatu saat Hebbers tumbuh cukup dewasa untuk menyadari bahwa berbicara dengan hewan adalah hal yang tidak masuk akal, akan tetapi rasa kasih sayangnya terhadap hewan hewan disekitarnya tidak hilang begitu saja. Dia masih sering bermain dengan teman temannya itu.
            Sampai suatu hari, saat Hebbers bermain seperti biasa di belakang rumahnya, ia mendengar seseorang memanggil namanya. “Hebbers ….. Hebbers…..” Hebbers pun masuk kerumah, “ada apa kau memanggilku bu ??” Tanya Hebbers. “memangnya siapa yang memanggilmu” jawab ibunya heran. Dengan wajah kebingungan  Hebbers pun kembali ke halaman belakang rumahnya, ia merasa benar benar ada yang memanggil namanya tadi. “Hebbers….. disini….” Suara tersebut terdengar lagi, Hebbers menyadari suara tersebut bahkan tidak berasal dari rumahnya. Hebbers melihat sekelilingnya, ternyata ada seekor rusa di dekat sana, tidak biasanya muncul rusa di musim musim seperti ini. Tanpa pikiri panjang langsung saja Hebbers mencoba mendekati rusa tersebut. Awalnya tidak terjadi apa apa dengan rusa tersebut, dia berusara seperti biasa, bahkan dia tidak mencoba untuk lari menjauhi Hebbers. Langsung saja Hebbers mencoba dengan penuh harapan untuk berbicara dengan rusa tersebut. “hai rusa, apa kau bisa mengucapkan sesuatu ?” Tanya Hebbers. “Sesuatu ?” rusa tersebut menjawab Hebbers dengan bahasa manusia, langsung saja Hebbers terkaget, ia merasa seakan akan mimpinya dahulu terwujud, dia akhirnya bisa berbicara dengan hewan. “apakah kau benar benar bisa berbicara denganku rusa ?” Tanya Hebbers dengan kegirangan seakan akan masih tidak percaya bahwa rusa tersebut benar benar berbicara. “ya Hebbers, aku sedang berbicara denganmu” jawab rusa tersebut berusaha untuk meyakinkan Hebbers. Hebbers sangat senang sekali seperti ingin meledak, ternyata usaha Hebbers selama ini tidak sia sia. Rusa tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya semua hewan yang ada di bumi ini bisa berbicara dan bahkan bisa berpikir seperti manusia. Hebbers tidak percaya dengan apa yang dialaminya, ia seperti sedang berada di negeri dongeng. Rusa tersebut seakan membuat panggilan kepada hewan lain. Langsung saja Hebbers bisa mendengar suara semua hewan berbicara menggunakan bahasa manusia. Rusa menjelaskan kepada Hebbers bahwa sebenarnya semua hewan bisa saja berbicara dengan manusia namun ditakutkan manusia yang serakah justru menyalahgunakannya oleh karena itu para hewan menunnggu seorang anak adam yang benar benar bisa dipercaya oleh bangsa hewan. Bangsa hewan berharap kepada kepada Hebbers bahwa nantinya Hebbers bisa meyakinkan semua umat manusia bahwa mereka harus memperlakukan hewan hewan selayaknya makhluk hidup.
            Hebbers pun segera kembali kerumahnya dan menceritakan semua kejadian tersebut kepada orang tuanya. “umurmu sudah 10 tahun Hebbers, berhentilah berkhayal seperti anak anak” bantah orang tua Hebbers, mereka menganggap Hebbers hanyal sedang berimajinasi. Hebbers merasa kesal dengan hal tersebut, namun dia sadar di umurnya yang masih muda tidak mungkin dia mampu menjelaskan semua hal yang terjadi kepada orang lain, terlebih lagi orang dewasa. Hebbers akhirnya hanya pasrah dan harus menunngu dirinya tumbuh dewasa.
            Setiap hari, seperti biasa Hebbers bermain dengan teman teman belakang rumahnya, namun kali ini tidak hanya sekedar bermain, Hebbers juga berlatih untuk bekerja sama bersama dengan semua hewan. Dia belajar untuk menunggangi rusa, membentuk pasukan semut yang sangat kuat, berselancar di air dengan bantuan ikan hingga terbang dengan memanfaatkan sekelompok burung dan masih banyak lagi hal hal yang ia latih bersama dengan teman temannya. Semua latihan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain bahwa Hebbers benar benar berinteraksi dengan mereka.
            Hebbers tumbuh dari hanya seorang anak kecil yang menyukai binatang sampai ia bahkan menjadi kepercayaan bangsa hewan untuk menjadi pemimpin alpha mereka. Latihan Hebbers selama ini membuatnya semakin siap untuk melaksanakan tugas sebenarnya. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat kuat ditambah dengan teman teman hewannya.
            Akhirnya Hebbers menjadi cukup yakin untuk bisa meyakinkan orang lain bahwa binatang juga punya perasaan layaknya manusia dan bahkan bisa berbicara seperti manusia. Awalnya dia datang kepada orang tuanya dengan menunnggangi rusa kesayangannya. Awalnya orang tua Hebbers tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Namun ketika Hebbers dibantu dengan rusa kesayangannya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya mereka pun percaya kepada Hebbers. Saat itu juga Hebbers berpamitan kepada orang tuanya untuk menjalankan tugasnya. Hebbers pun pergi dari rumahnya untuk menjalankan tugasnya memberitahu seluruh umat manusia.
            Hebbers berkelana dengan teman teman hewannya dari satu tempat ke tempat lain. Berita tersebut lama kelamaan berkembang dan terus menyebar ke seluruh dunia. Dengan hasil latihannya bersama dengan teman teman hewannya, Hebbers berhasil meyakinkan manusia manusia lain untuk memperlakukan binatang selayaknya makhluk hidup dan bahkan seperti manusia.
            Namun perjalanan Hebbers tidak berjalan mulus begitu saja. Seiring dengan berkembangnya berita Hebbers, muncul pula manusia manusia yang sangat kesal dengan Hebbers. Mereka yaitu orang orang yang pernah terlibat konflik dengan binatang, mulai dari yang sangat benci dengan serangga, ular, katak, kambing dan lainnya bahkan karena beberapa teman dan saudara mereka pernah terbunuh akibat ulah binatang. Tak satupun dari mereka menyukai Hebbers dan teman teman hewannya. Merekapun membentuk organisasi untuk memrangi Hebbers dan hewan hewan. Tak tanggung tanggung, mereka juga membuat berbagai macam senjata untuk memusnahkan hewan hewan di dunia ini.
            Akibatnya terbentuklah dua kelompok besar di yang saling bermusuhan, kelompok Hebbers dan kelompok anti Hebbers. Disinilah kemampuan Hebbers selama ini benar benar diuji.
            Kedua kelompok saling memersiapkan diri untuk menghadapi perang besar ini. Hebbers melatih orang orang untuk bekerja sama dengan hewan dan membentuk pasukan pasukan yang sangat kuat. Begitu juga dengan kelompok anti Hebbers, mereka terus membuat senjata untuk memusnahkan hewan hewan pengikut Hebbers.
            Akhirnya hari puncak konflik antara dua kelompok ini tiba, pasukan Hebbers yang dipimpin Hebbers dan rusa kesayangannya beserta seluruh bangsa hewan berperang melawan kelompok anti Hebbers. Hebbers beserta pasukan pasukan hewannya memberikan perlawanan yang sangat sengit terhadap manusia manusia pembenci hewan. Hewan hewan buas seperti Beruang, singa, burung, bahkan pasukan semut membuat lawan sangat kesusahan. Namun tidak sedikit juga pasukan Hebbers yang mati. Salah satunya yaitu rusa kesayangan Hebbers. Hebbers sangat sedih karena kematian rusa kesayangannya. Akhirnya dengan pertarungan yang sangat sengit, pasukan Hebbers berhasil memenangkan peperangan tersebut.
            Peperangan tersebut telah merubah dunia, saat ini semua makhluk hidup hidup berdampingan/ antara manusia dengan hewan tidak ada lagi perbedaan perlakuan. Manusia dan hewan saling membantu pekerjaan, tidak ada lagi kata kata hewan buas ataupun hewan mematikan. Begitu juga halnya dengan manusia. Banyak perlombaan perlombaan yang melibatkan kerjasama antara manusia dan hewan.
Hebbers telah berhasil membuat manusia sadar untuk tidak memandang rendah makhluk lain, saat ini dunia sudah menjadi lebih baik, manusia dan hewan saling membantu satu sama lain, hidup berdampingan dan saling berkomunikasi persis seperti apa yang ada pada imajinasi masa kecil Hebbers.

           



                                                                                                                 ©Egie Vistantyo (Yogyakarta)

0 comments:

Post a Comment