Ada setidaknya orang yang ditakutkan di lingkungan anda. Di perumahan gue dulu,ada seorang lelaki yang aslinya baik tapi ditakuti oleh banyak anak disana. Di takuti bukan berarti dalam hal perkelahian,tetapi dalam hal mental dan sikap. Kenapa gue bilang baik,ya karena seorang laki-laki tersebut tidak sepenuhnya bersalah. Keadaan fisik yang kurang sempurna akibat suatu kecelakaan yang sudah terjadi kurang lebih 5 tahun dari hari itu,menjadi salah satu penyebab mental,sikap sertaa fisiknya terganggu.
Pria itu bernama Bima. Hampir semua anak yang rata-rata adalah seorang pelajar SD yang takut kepadanya. Hanya sebagian yang pernah ataupun sering bertemu dengannya bahkan sampai mengobrol,dan ada sebagian yang tahu hanya karena mulut ke mulut. Gue adalah orang yang sering,dan bahkan pernah mengobrol bersama Bima. Umur kami cukup terpaut jauh,saat itu gue berumur 9 tahunan dan Bima berumur sekitar 16 tahunan,cukup jauh memang.
Siang itu gue bermain monopoli di salah satu rumah temen gue yang bernama Ninda,yap tul dia cewek. Tapi jangan salah sangka loh ya,gue bermain beramai-ramai tidak hanya berdua. Mungkin hari itu ada sekitar 4 orang yang bermain bersama kita. Rumah Ninda di penuhi dengan permainan-permainan yang lazimnya di mainkan oleh anak SD pada zaman itu. Tidak hanya monopoli kita juga bermain permainan yang dahulu bernama dakon. Permainannya cukup simpel tapi memang harus mempunyai keahliann untuk memainkannya. Mungkin permainan itu sekarang sudah jarang dimainkan ya,karena ya sekarang anak-anak SD lebih sibuk dengan gadgednya masing-masing(udahcanggihcoy).
Oiya,temen-temen gue yang ikut main tadi bernama Ari,Angga,dan Rizki. Mereka semua cowok tulen(asli). Praktis Ninda yang cewek sendiri dalam tongkrongan kita(woow). Siang itu kita mendadak menjadi miliarder bahkan menjadi Pemilik dari beberapa Kota di dunia. Kita bisa menjual kota tersebut dan menukarnya dengan kota lain dengan harga yang bagi kami cukup murah. Kami tidak bekerja cukup keras,hanya melemparkan dadu saja sudah bisa mempunyai salah satu Kota yang kita inginkan. Namun siang itu juga kita mendadak bisa menjadi Napi karena harus masuk penjara dengan alasan yang tidak diketahui. Namun tetap saja,itu hanya permainan belaka. Gue sih berharap kedepannya ada permainan monopoli dengan bentuk yang nyata dan rasional. Tapi harapan gue itu sepertinya tidak rasional untuk di wujudkan. So,gue batalin harapkan tersebut. hehehe.
Tak terasa kami bermain cukup lama. Waktu menunjukan pukul 3 sore dan itu artinya gue harus menunaikan ibadah ashar terlebih dahulu(muslimsob). Setelah sholat ashar gue pun langsung kerumah Yasir untuk mengajaknya bermian sepakbola di Fasum/lapangan yang ada di perumahan gue. Satu persatu temen kita ajak untuk bermain bersama. Terkumpulah sekitar 8 orang untuk dibagi menjadi 2 tim. Permainan pun kita mulai dengan di tandai dengan sempritan wasit yang dilakukan dengan mulut gue. Iya pake mulut bukan pake peluit. Priiiiittttt..... Dimulailah sepakbola pada sore hari itu. Setelah bermain selama kurang lebih 1 setengah jam,permainan pun berakhir karena Andi,temen gue dipanggil nyokap nya untuk mandi sore. Dulu mah main sepakbola berhentinya kalo gak gitu ya paling nunggu adzan magrib aja. Kalo engga ya salah satu dari kita ada yang berkelahi,maklumlah masih pada SD. wkwkw..
Dengan berakhirnya permainan tersebut gue pun pulang dan melihat kotak besar yang berada di depan warung gue. Iya gue dulu buka warung kelontong kecil-kecil an. Setelah gue cek ternyata Orangtua gue beli kulkas baru karena kulkas yang lama sudah terlalu lama sendiri(jones). Becanda sob,kulkas lamanya udah rusak kok. Gue pun seneng sekali melihat kerdus berukuran besar yang sangat kokoh. Gue pun mengambil kursi unuk memanjat dan masuk kedalam kardus besar tersebut. Yeaahhh gue udah didalem kardus. Tak lama kemudian datang Bima dengan di tandai dengan suara sandal yang di seret,gue udah hafal banget sama suara seretan sandal dari kaki Bima.
'Buk,beli rokok!' ucap Bima dengan nada yang cukup tinggi.
Gue pun hanya bisa diam dan tak berani untuk keluar dari kardus besar tersebut. Bima pun tak tahu kalo gue ada didalam situ. Sekarang gue udah ngerasa seperti lelaki kardus sesungguhnya. Setelah dirasa Bima telah pergi,gue pun langsung keluar dengan mendorong kardus tersebut dengan sekuat-kuatnya sehingga jatuh lah kardus itu ke bawah Gubrakkk!! .... Gue pun dengan tergesa-gesa berusaha lari dan keluar. Namun firasat gue salah,Bima belum pergi dari rumah gue. Ternyata dia masih menunggu didepan warung dan hanya diam karena mungkin dia merasa aneh dengan kardus besar tersebut.
Gue yang terdiam sebentar bertatap-tatapan dengan Bima,langsung berlari menjauhi rumah dan lari dengan kencang.
'Wooooyy!!' teriak Bima dengan keras disaat gue lari.
Mungkin Bima merasa kaget atau entah gimana gue gak tau dan tidak mau tahu.
Beberapa hari kemudian gue bermain kapal-kapalan menggunakan botol di kali kecil samping rumah. Bima datang dengan raut wajah yang tidak muram seperti biasanya. Gue pun waktu itu tidak merasa takut dan tetap bermain kapal-kapalan walaupun dengan persaaan sedikit was-was. Bima lalu mendekati gue dan langsung duduk disamping gue bermian. Raut wajah senang yang di tandai dengan senyuman kecil nampak pada wajahnya kala itu.
'Aku tu gak punya temen e' Ucap Bima dengan senyuman kecil
Gue kaget mendengar perkataan dia yang kali ini tidak galak seperti biasanya gue pun mulai menanggapi perkataan bima tersebut dan kita pun mengobrol. Perbedaan umur yang lumayan jauh tidak membuat bima canggung mengobrol dengan gue.
Bima yang dikenal dengan kegalakannya nampak santai pada sore itu. Hal ini dapat gue simpulkan bahwa fisik dia yang tidak sempura seperti orang kebanyakan membuat mentalnya menjadi buas dan menyeramkan. Tapi itu semua bukan salah dia juga. Orang-orang yang sudah terlanjur mempunyai prasangka buruk terhadapnya juga membawa dampak bagi mental seorang Bima.
Jangan melihat orang dari covernya saja,...Mungkin itu kalimat yang pantas kita renungkan. Memang bagi Bima,itu sudah telat untuk kita berbuat baik kepadanya. Mental yang sudah terganggu sangat sulit untuk bisa diubah. Mungkin ini sedikit pembelajaran bagi kita supaya berbuat baik dengan orang yang bahkan belum kita kenal. Jangan mudah percaya dengan perkataan orang lain sebelum kita mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sunday, July 24, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment